Minggu, 31 Oktober 2021

Keren! Sukoharjo Jadi Percontohan Nasional PAUD Ramah Anak


Solopos.com, SUKOHARJO
— Sebanyak 264 lembaga Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD di Sukoharjo disasar mendapatkan pendampingan oleh Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) untuk mewujudkan PAUD ramah anak. Melalui program tersebut, Kabupaten Jamu menjadi pilot project atau percontohan PAUD ramah anak secara nasional.

Direktur YSKK, Iwan Setyoko, mengatakan YSKK merupakan satu dari 156 ormas yang lolos sebagai mitra pelaksana program organisasi penggerak (POP) Ditjen Kemendikbudristek. YSKK sendiri melalui POP memfokuskan pada pendampingan 264 lembaga PAUD, 756 pendidik, dan 264 pengelola atau kepala PAUD untuk membentuk PAUD ramah anak. 

“Program ini kan bekerja sama dengan pemerintah pusat. Kami menjadi salah satu yang lolos POP dan fokus kami ke mewujudkan PAUD ramah anak. Nah program tersebut resmi dimulai hari ini [Rabu, 27/10/2021]. Kami saat ini sedang menjalankan kajian atau penelitian tentang PAUD di Sukoharjo. Untuk program awal ini kami jalankan dalam waktu empat bulan,” ujarnya kepada Solopos.Com, Rabu (27/10/2021).

YSKK Inisiasi PAUD Ramah Anak di Sukoharjo


REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) menginisiasi PAUD Ramah Anak di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, dengan sasaran 264 lembaga PAUD. Langkah tersebut merupakan implementasi Program Organisasi Penggerak (POP) yang akan dilaksanakan pada 2021-2023 ini.

YSKK menjadi salah satu dari 156 organisasi kemasyarakatan (ormas) yang lolos sebagai mitra pelaksana dalam POP Ditjen Kemendikbud Ristek.

POP merupakan salah satu bentuk kemitraan dan kegotongroyongan antara pemerintah dan ormas penggerak pendidikan untuk menemukan inovasi-inovasi yang bisa dipelajari lalu diterapkan dalam skala nasional. Program ini memiliki misi mencari jurus dan pola terbaik dalam memajukan pendidikan Indonesia.

Direktur Yayasan Satu Karsa Karya, Iwan Setiyoko mengatakan, program PAUD Ramah Anak di Kabupaten Sukoharjo sejalan dengan program Kabupaten Layak Anak (KLA) pada Pemenuhan Hak Anak (PHA), khususnya di klaster ke-4, yakni, Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan Budaya.

Selasa, 21 September 2021

Rahmat Adinata dan Mimpi Jadikan Sumba Pulau Organik

 


  • Rahmat Adinata asli dari Jawa Barat. Pada tahun 2012 ia datang ke Sumba, karena saat itu ada rawan pangan yang melanda Pulau Sumba akibat El Nino.
  • Pertanian organik jadi pilihan perkembangan karena tanah, air dan udara di Pulau Sumba belum banyak terkontaminasi polusi dan bahan kimia sintesis
  • Untuk merubah pola pikir petani, Rahmat mendirikan sekolah lapang organik bagi kelompok-kelompok tani di Sumba Timur dan Sumba Barat Daya
  • Lewat pertanian organik petani dapat menanam padi, hortikultura, dan pangan lokal dengan lebih baik. Hasilnya, terdapat peningkatan pendapatan petani hingga 30%.

***

Pulau Sumba dikenal sebagai pulau karang, yang identik dengan perbukitan dan padang savana. Banyak orang yang lebih mengenal Sumba dengan kuda sandalwood dan hasil ternaknya. Meski demikian, pertanian organik mulai menggeliat di tanah Marapu ini.

Salah seorang pelopor pertanian organik di Sumba adalah Rahmat Adinata, atau yang populer dipanggil Rahmat Organik. Sosok berusia 55 tahun ini amat terkenal di kalangan petani di Sumba. Banyak sudah kelompok tani di Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Barat Daya yang telah ia dampingi dan pada akhirnya berhasil.

Kamis, 03 Juni 2021

My Life My Adventure

 Refleksi berproses, belajar, dan berkarya bersama YSKK

 


“Ada dua cara untuk menebarkan cahaya terang; Jadilah nyala lilin atau cermin yang menerima sinarnya.” 

(Edith Watson)

 

Sepenggal Kisah 

Ibu Tina, nama panggilan Ibu Rostina, salah seorang disabilitas tuna daksa (kakinya mengecil, sehingga tidak bisa menopang tubuhnya) sejak kecil diakibatkan karena polio. Dia adalah salah satu perempuan pelaku usaha kecil yang juga penyintas bencana di Desa Tompe, Kecamatan Sirenja, wilayah Pantai Barat Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. 

Meskipun dalam kondisi terbatas, dia tetap berusaha bertahan mengelola warung kecilnya, karena dia adalah satu-satunya pencari nafkah yang menghidupi keponakan dan ibu tirinya (yang sudah lansia). Sebelum bencana dia memakai kursi roda dalam menjalankan aktivitas menjaga kios, tetapi setelah bencana dia harus dibantu oleh keponakannya, karena warungnya sempit dan modelnya telah diubah menjadi panggung. Hal ini sebagai akibat naiknya air laut ke daratan (rob) hingga masuk ke rumah-rumah warga, setiap sore sampai pagi hari. Sehingga, dia tidak bisa lagi untuk memakai kursi roda di warungnya.

Minggu, 23 Mei 2021

Berawal Dari Mimpi, Bu Ning Buat Aneka Jamu, Banyak Orang Jadi Sehat Dan Sembuh


WartaKita.org
– Jangan pernah menyepelekan mimpi. Karena mimpi bisa menjadi “petunjuk hidup” bagi Anda dalam meraih kesuksesan.

Setidaknya, hal ini juga dialami oleh Christiana Triningsih, warga Dukuh Tancep RT 01 RW 06 Nomor 43, Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Kaupaten Gunungkidul.

Karena mimpinya, perempuan yang akrab disapa Bu Ning ini sekarang sukses membuat aneka jamu dari bahan herbal yang diberi nama Jamuning, atau singkatan dari Jamune Bu Ning.

Saat ditemui Wartakita.org di rumahnya pada Sabtu (9/1/2021) pagi, Ning menceritakan, pada Jumat malam di bulan Januari tahun 1997, dia bermimpi ditemui orangtua berjenggot panjang di sebuah lembah, yang di sekitarnya terdapat sebuah villa. Orangtua itu membawa tanaman kunyit dan benalu.

Selasa, 04 Mei 2021

Peserta Program Organisasi Penggerak Siap Jalankan Pendidikan di Daerah


JAKARTA – Sejumlah peserta Program Organisasi Penggerak (POP) siap menjalankan praktik baik pendidikan di berbagai daerah seluruh Indonesia mulai tahun ini. Hal ini dilakukan setelah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelesaikan evaluasi dan kelengkapan administrasi program tersebut.

Direktur Pelaksana Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) Iwan Setiyoko menjelaskan POP merupakan salah satu langkah efektif meningkatkan kualitas pendidikan dengan membawa unsur kegotongroyongan antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. Iwan adalah salah satu peserta POP yang fokus mengembangkan pendidikan dasar dan usia dini.

“Program ini bagus untuk mengkristalisasi upaya yang dilakukan lembaga pegiat pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Program ini juga mampu mengkompilasi, meramu, serta mereplikasi berbagai capaian positif yang dilakukan sesuai kebutuhan dan sumber daya masing-masing daerah,” kata Iwan, Selasa, 9 Maret 2021.

Senin, 12 April 2021

SDGs Desa Sebagai Jawaban Atas Berbagai Persoalan yang Dihadapi oleh Desa


CERITAWARGA
.com, JAKARTA
 | Komitmen terhadap implementasi pembangunan berkelanjutan desa (Sustainable Development Goals/SDGs Desa) menjadi tantangan bukan hanya bagi pemerintah, tetapi juga seluruh pihak yang peduli dengan desa.

“Keberhasilan SDGs tidak dapat dilepaskan dari peranan penting sinergisitas pemerintah, masyarakat, hingga swasta (perusahaan),” kata Ketua Umum Sahabat Desa Nusantar (SDN), Ahmad Yani Budi Santoso yang dikutip media ini dari situs resmi sahabatdesanusantara.com, pada Kamis (11/2/2021).

Sebelumnya, hal itu disampaikan Ahmad Yani Budi Santoso dalam Bincang Sore ‘Karsa Desa’ perdana yang diselenggarakan secara virtual oleh Sahabat Desa Nusantara (SDN) bekerjasama dengan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) pada Jumat 5 Februari 202 lalu.

UMKM Naik Kelas, Perlu Sinergi Multipihak


“Perlu sinergi gerakan multipihak dalam mendukung UMKM untuk bangkit dan naik kelas pasca pandemi Covid-19.
Karena saat ini masing-masing pihak di Kabupaten Gunungkidul, baik pemerintah melalui dinas terkait, swasta melalui program CSR-nya, NGO/LSM, maupun jejaring UMKM lainnya (IWAPI, ASPEMAKO) masih terkesan berjalan sendiri-sendiri, sehingga kurang optimal kerjan-kerja pendampingannya.” ujar Iwan Setiyoko, Direktur YSKK dalam kegiatan Forum Sinergi Multipihak dengan tema “Upaya pemulihan ekonomi – UMKM di Kabupaten Gunungkidul dari dampak Covid-19” di ruang pertemuan hotel Cyka Raya, Kamis (8/4) lalu. 

"Berdasarkan hasil kajian riset dan temuan di lapangan selama mendampingi komunitas perempuan pelaku usaha mikro-kecil di Kabupaten Gunungkidul, paling tidak ada tiga permasalahan utama yang harus menjadi perhatian semua pihak ke depannya; Pertama. Penguatan kapasitas produksi dan manajemen usaha, Kedua. Digitalisasi pemasaran produk, dan Ketiga. Penguatan jejaring antar komunitas.” lanjutnya.

Senin, 05 April 2021

YSKK: UMKM Butuh Bantuan Pemasaran Untuk Bangkit Dari Pandemi Covid-19


Indiekraf.com –
Bantuan dana oleh pemerintah ternyata masih belum mampu untuk membantu meningkatkan ekonomi para pelaku UMKM di Indonesia. Masih dibutuhkan bantuan lain agar mereka bisa tetap bertahan untuk menghadapi pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih belum terkendali dengan maksimal. Belum lagi adanya penyalahgunaan bantuan yang dikorupsi atau salah sasaran yang membuat keadaan semakin memburuk.

Selain memberikan bantuan dana, pemerintah telah berusaha untuk membantu UMKM dengan cara membuat sebuah pelatihan dan penyelamatan usaha. Namun sayangnya, masih banyak program yang dinilai masih belum tepat sasaran. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil riset yang telah dilakukan oleh Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) pada kelompok usaha kecil dampingan mereka di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

YSKK telah mendampingi lebih dari 300 perempuan pelaku usaha yang ada di Gunungkidul. Dalam hal ini, dampak pandemi terhadap UMKM yang digerakan oleh perempuan ternyata lebih terasa. Dikutip dari voaindonesia.com, Iwan Setiyoko selaku Direktur YSKK menjelaskan bahwa salah satu penyebabnya adalah permasalahan data. “Temuan kami di lapangan, permasalahan muncul karena data yang tidak sinkron, antara dari dinas dan data di lapangan, sehingga banyak dari teman-teman dampingan perempuan pelaku usaha tidak terdata di dinas terkait,” jelasnya.

Gerai Perempuan, Dorong Kebangkitan Ibu-ibu Penyintas

Dokumentasi Proyek SERP Pasigala, Sulteng (Maret-Oktober 2019)



TALISE,MERCUSUAR
- Dalam mendukung percepatan pemulihan di Pasigala (Palu, Sigi, dan Donggala), terutama dalam bidang ekonomi, Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) dengan dukungan pendanaan dari ChildFund International dan AKH Germany, telah melaksanakan program ‘Sulawesi Early Recovery Phase’ – Livelihood for Women (Young Women and Mothers) in Micro Enterprises’ selama 6 bulan (periode Maret-Agustus 2019).

Salah satu dukungan kepada para penyintas, khususnya ibu-ibu dengan didirikannya ‘Gerai Perempuan Bercerita’, dimana gerai ini menjadi salah satu pusat pemasaran produk-produk unggulan dari kelompok dampingan dan juga sebagai pusat pemberdayaan perempuan penyintas bencana Pasigala. Selain itu gerai tidak hanya sebagai pusat penjualan ibu-ibu penyintas korban bencana saja, tapi menjadi pusat pembelajaran bagi perempuan.

“Di gerai itu para perempuan bisa saling bercerita tentang pengalaman. Kapasitasnya kepada perempuan yang lain sehingga antara perempuan satu dan perempuan yang lain itu terjadi dengan take and kind saling memberi saling menerima dan saling berkembang barsama-sama,” kata Koordinator Proyek YSKK, Iwan Setiyoko, Rabu (18/9/2019).

Kamis, 01 April 2021

Kelompok Usaha Penyintas Binaan YSKK Rintis Kegiatan Usaha Perempuan Penyintas Bencana

Dokumentasi Proyek SERP Pasigala, Sulteng (Maret-Oktober 2019)

 


TRIBUNPALU.COM, PALU - Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) dengan pendanaan dari ChildFund International dan AKH Germany, merampungkan program bantuan untuk perempuan penyintas di Palu, Sigi, dan Donggala, di September 2019 ini.

Selasa (24/9/2019) siang, puluhan ibu rumah tangga di sekitaran hunian sementara Kelurahan Layana Indah, Kecamatan Mantikulore, menerima bantuan dana dan alat produksi.

Bantuan dana dan alat produksi itu, diberikan untuk membantu usaha mikro ibu-ibu penyintas guna memulihkan ekonomi masyarakat yang terdampak bencana di Kota Palu, Sigi, dan Donggala.

Kisaran nominal bantuan tersebut terdiri dari Rp2.750.000 per orang untuk penyintas yang tinggal di huntara, dan Rp2.250.000 per orang bagi yang sudah tinggal di rumah pribadi.

Jumat, 26 Maret 2021

Penyintas Korban Bencana dapat Bantuan Alat Produksi Serta Dana Stimulan dari YSKK

Dokumentasi Proyek SERP Pasigala, Sulteng (Maret-Oktober 2019)

 


PALU, Kabar Selebes – Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) merampungkan program bantuan untuk perempuan penyintas di Palu, Sigi dan Donggala, pada September 2019 tahun ini yang didanai oleh ChildFund International dan AKH, Germany.

Puluhan ibu rumah tangga di hunian sementara (Huntara) Kelurahan Layana Indah, Kecamatan Mantikulore, Selasa (24/9/2019) menerima bantuan dana stimulan dan alat produksi.

Bantuan dana dan alat produksi itu, diberikan untuk membantu usaha mikro ibu-ibu penyintas pascabencana 28 September 2018 silam.

Bantuan ini bertujuan untuk membantu pemulihan ekonomi masyarakat yang terdampak bencana di Kota Palu, Sigi, dan Donggala.

Penyintas Korban Bencana dapat Bantuan Alat Produksi Serta Dana Stimulan dari YSKK

Dokumentasi Proyek SERP Pasigala, Sulteng (Maret-Oktober 2019)

 

LAYANA, MERCUSUAR- Dalam mendukung percepatan pemulihan di Pasigala (Palu, Sigi, dan Donggala), terutama dalam bidang ekonomi, Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) dengan dukungan pendanaan dari Child Fund International dan AKH Germany, telah melaksanakan program ‘Sulawesi Early Recovery Phase’ – Livelihood for Women (Young Women and Mothers) in Micro Enterprises’ selama enam bulan periode Maret-Agustus 2019. Namun, dengan berbagai pertimbangan, terutama kebutuhan untuk penguatan kemandirian kelompok dampingan, maka pelaksanaan proyek diundur sampai September 2019.

Di akhir Agustus lalu, telah disepakati bersama adanya nota kesepahaman terkait komitmen bersama untuk melanjutkan keberhasilan proyek, khususnya dalam rangka pemberdayaan perempuan antara Child Fund International (sebagai pemilik proyek) dengan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, yang diwakili oleh Setda dan Kadis Koperasi UMKM Provinsi Sulteng.

YSKK Serahkan Bantuan Stimulan Tahap Dua

Dokumentasi Proyek SERP Pasigala, Sulteng (Maret-Oktober 2019)

 


SULTENG RAYA – Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) bersama Chilfund kembali memberikan bantuan stimulan tahap dua berupa alat produksi usaha dan dana kelompok sebesar Rp11 juta bagi  tiga kelompok usaha serta 87 perempuan pelaku usaha di Huntara Layana Indah, Kelurahan Layana Indah, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Selasa (24/9/2019).

Penyerahan stimulan itu merupakan tindak lanjut terhadap keberhasilan proyek pembinaan pascabencana selama ini, khususnya dalam mengembalikan usaha para perempuan terdampak bencana di Kota Palu, Sigi, dan Donggala (Pasigala).

YSKK-Chilfund juga telah mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah dengan adanya penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) soal pembinaan perempuan untuk menghidupkan kembali usaha mensejahterakan para penerima manfaat.  

BANTUAN PEMULIHAN USAHA MIKRO KORBAN BENCANA

Dokumentasi Proyek SERP Pasigala, Sulteng (Maret-Oktober 2019)

 

Perwakilan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) Iwan Setiyoko (kanan) memberi sambutan pada kegiatan penyerahan bantuan stimulan modal usaha bagi perempuan pengusaha mikro di Kompleks Hunian Sementara (Huntara) Layana di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (4/7/2019). YSKK bekerja sama dengan ChildFund, AKH Germany dan LPBI-NU memberikan bantuan modal usaha bagi perempuan pengusaha mikro korban bencana gempa, tsunami dan likuifaksi di Kota Palu, Sigi dan Donggala dengan total lebih dari satu miliar rupiah serta diharapkan dapat kembali memulihkan mata pencaharian sekitar 556 perempuan pengusaha mikro korban bencana di daerah tersebut. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/wsj.


Penerima bantuan mengambil buku rekening pada kegiatan penyerahan bantuan stimulan modal usaha bagi perempuan pengusaha mikro di Kompleks Hunian Sementara (Huntara) Layana di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (4/7/2019). YSKK bekerja sama dengan ChildFund, AKH Germany dan LPBI-NU memberikan bantuan modal usaha bagi perempuan pengusaha mikro korban bencana gempa, tsunami dan likuifaksi di Kota Palu, Sigi dan Donggala dengan total lebih dari satu miliar rupiah serta diharapkan dapat kembali memulihkan mata pencaharian sekitar 556 perempuan pengusaha mikro korban bencana di daerah tersebut. ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah/wsj.


Sumber: Antarafoto.com

Silahkan baca juga: 

Ratusan perempuan penyintas korban bencana Sulteng diberi modal usaha

Dokumentasi Proyek SERP Pasigala, Sulteng (Maret-Oktober 2019)

 


Sedikitnya 560 perempuan penyintas korban bencana gempa, tsunami dan likuefaksi di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala, yang kehilangan mata pencaharian, memperoleh dana stimulan berupa modal usaha dari Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) dengan dukungan dana ChilFund dan AKH Germany.

"Bantuan usaha yang kita berikan berupa modal usaha pribadi dan kelompok usaha. Kita juga bantu alat-alat produksi untuk kelompok usaha," kata Koordinator Proyek SERP-YSKK, Iwan Setiyoko usai menyerahkan bantuan modal usaha dan alat usaha kepada perempuan penyintas dan kelompok usaha penyintas di hunian sementara (huntara) Kelurahan Layana Indah, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Selasa.

Ia mengatakan modal usaha yang diberikan sejak Maret hingga akhir September sudah sebesar Rp1,6 miliar.

Ratusan Perempuan Penyintas Korban Bencana Sulteng Diberi Modal Usaha

 Dokumentasi Proyek SERP Pasigala, Sulteng (Maret-Oktober 2019)



Businesstoday.id, Palu
– Sedikitnya 560 perempuan penyintas korban bencana gempa, tsunami dan likuefaksi di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala, yang kehilangan mata pencaharian, memperoleh dana stimulan berupa modal usaha dari Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) dengan dukungan dana ChildFund dan AKH Germany.

“Bantuan usaha yang kita berikan berupa modal usaha pribadi dan kelompok usaha. Kita juga bantu alat-alat produksi untuk kelompok usaha,” kata Koordinator Proyek SERP-YSKK, Iwan Setiyoko usai menyerahkan bantuan modal usaha dan alat usaha kepada perempuan penyintas dan kelompok usaha penyintas di hunian sementara (huntara) Kelurahan Layana Indah, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Selasa (24/9/2019).

Ia mengatakan modal usaha yang diberikan sejak Maret hingga akhir September sudah sebesar Rp1,6 miliar.

Bantuan tersebut meliputi dana stimulan modal usaha kepada perempuan penyintas yang kehilangan mata pencahariannya yang tinggal di rumah senilai Rp2,25 juta, yang tinggal di huntara Rp2,75 juta dan kepada kelompok usaha Rp11 juta.

Perempuan Penyintas Korban Bencana Sulteng Diberi Modal Usaha

Dokumentasi Proyek SERP Pasigala, Sulteng (Maret-Oktober 2019)



Palu, MNEWS.co.id
– Sebanyak 560 perempuan penyintas korban bencana gempa, tsunami dan likuefaksi yang berada di Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala, yang kehilangan sumber penghasilan, memperoleh dana stimulan berupa modal usaha dari Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) dengan dukungan dana ChilFund dan AKH Germany.

“Bantuan usaha yang kita berikan berupa modal usaha pribadi dan kelompok usaha. Kita juga bantu alat-alat produksi untuk kelompok usaha,”
kata Iwan Setiyoko, Koordinator Proyek SERP-YSKK, setelah memberikan bantuan modal usaha dan alat usaha kepada perempuan penyintas dan kelompok usaha penyintas di hunian sementara (huntara) Kelurahan Layana Indah, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Selasa (24/9/19).

Iwan menjelaskan bahwa modal yang diberikan sejak Maret sampai akhir September sudah terkumpul sebesar Rp1,6 miliar. Bantuan itu antara lain berupa dana stimulan modal usaha kepada perempuan penyintas yang kehilangan sumber penghasilan yang tinggal di rumah senilai Rp2,25 juta, yang tinggal di huntara Rp2,75 juta dan kepada kelompok usaha Rp11 juta.

Kamis, 25 Maret 2021

Kerugian UMKM Akibat Bencana Sulteng Ditaksir Capai 83 Miliar

 Dokumentasi Proyek SERP Pasigala, Sulteng (Maret-Oktober 2019)

 


Akibat gempa, tsunami dan likuefaksi yang menerjang, Kota Palu, Kabupaten Sigi dan Donggala (Pasigala) pada 28 September 2018, sekitar 2.300 lebih usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) terdampak, dengan kerugian ditaksir sekitar Rp 83 miliar.

Hal ini disampaikan Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) Provinsi Sulawesi Tengah, Eda Nur Ely, usai menyerahkan secara simbolis dana stimulan modal usaha untuk Perempuan Pengusaha Mikro kepada perwakilan kelompok UMKM di Huntara Dupa Indah, Kelurahan Layana Indah, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu, Kamis (4/7). Bantuan dana stimulan ini diinisiasi oleh Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) bekerjasama dengan ChildFund, AKH Germany, dan LPBI-NU. 

Eda Nur Ely mengatakan, jenis usaha yang paling banyak terdampak bencana 28 September adalah kelompok usaha kafe. Namun, dengan adanya bantuan stimulan usaha yang diberikan ini akan sangat membantu percepatan pemulihan bagi UMKM tersebut.

YSKK Serahkan Stimulan Modal Usaha di Pasigala

Dokumentasi Proyek SERP Pasigala, Sulteng (Maret-Oktober 2019)

 


Palu, Metrosulawesi.id –
Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat korban bencana. Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK)  menyerahkan bantuan dana stimulan modal usaha bagi perempuan penyintas di Palu, Sigi dan Donggala.

Kegiatan tersebut berlangsung di kompleks Hunian sementara (Huntara) Dupa Kelurahan Layana Indah Kecamatan Mantikulore Kota Palu, Kamis 4 Juli 2019.

Koordinator Proyek Sulawesi Early Recovery Phase (SERP) YSKK, Iwan Setiyoko mengungkapkan sejak dilakukan inisiasi proyek tahap pembangunan awal Sulawesi. Pihaknya berkomitmen memberikan pelayanan maksimal dalam hal penyaluran dana stimulan modal usaha.

“Jadi, apa yang kami lakukan dari pertama, tahap mulai assement hingga sampai pada perekrutan, kemudian dibentuklah dua kelompok usaha, khusus di Huntara Dupa Layana Indah dengan jumlah anggota 87 orang,” ungkapnya.

Kamis, 18 Maret 2021

Perempuan Pelaku Usaha Mikro dan Kecil Butuh Solusi Pemasaran


Dampak pandemi terhadap sektor Usaha Mikro dan Kecil (UMK) yang digerakkan perempuan ternyata lebih terasa. Sejumlah program bantuan dan penyelamatan usaha dilakukan, tetapi banyak yang dinilai tidak tepat sasaran. Salah satunya dibuktikan melalui riset Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) pada kelompok usaha kecil dampingan mereka di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

Iwan Setiyoko, Direktur YSKK mengatakan, pangkal permasalahan ada pada data. Sejak lama, data menjadi celah yang membuat program pemerintah tidak tepat sasaran, dan pandemi memperparah dampak salah data tersebut. 

"Temuan kami di lapangan, permasalahan muncul karena data yang tidak sinkron, antara dari dinas dan data di lapangan, sehingga banyak dari teman-teman dampingan perempuan pelaku usaha tidak terdata di dinas terkait,” kata Iwan kepada VOA.

Karena data yang tidak sinkron, lanjut Iwan, program lanjutan seperti penguatan kapasitas menjadi tidak tepat sasaran. Banyak perempuan pelaku usaha yang benar-benar memiliki produk, justru tidak masuk dalam program itu.

Rabu, 03 Februari 2021

“Kelentingan” Perempuan Sektor Informal di Masa Pandemi


"Usaha saya sabun langis. Ia merupakan produk olahan minyak jelantah yang diolah menjadi sabun cuci ramah lingkungan. Selama ini saya jual dari mulut ke mulut saja. Kini, saya pasang melalui on line. Nggak kebayang sebelumnya sih. Dengan bantuan pedamping, produk saya ada di Tokopedia. Sekarang, saya mampu mengunggah produk, meningkatkan promosi sampai mengelola pesanan”, ungkap Yomi Windi Asni, warga Bantul, Yogyakarta. Ia menjadi bagian program kerjasama Tokopedia, Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) dan Asosiasi Perempuan Pengusaha Usaha Kecil (ASPPUK) melalui Program Perempuan Wirausaha Tangguh dan Kreatif.

Pengalaman senada, Monita, perempuan muda kab. Maros, Sulawesi Salatan, mengembangkan pembibitan jamur, sesuai keahliannya sebagai mahasiswa biologi. Pandemi ini mendorongnya untuk jeli membaca pasar dan mengembangkan produk. “Anak muda tertantang dengan kondisi pandemi. Pasar yang tidak normal menjadi tes nyata produk yang sedang dikembangkan. Begitu pasar menurun, saya cepat mengganti bisnis. Yang penting coba saja…”, ungkapnya pada penulis. Kini, anak muda berduyun-duyun menciptakan kerja. Hasil survei kewirausahaan -sebelum Cofid-19- dalam “The Asia Pasicif Entreprenership Insight survey 2019” oleh Herbalife menyebutkan tujuh dari sepuluh (71%) anak muda berkeinginan memiliki usaha. Monita reprentasi perempuan muda Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara yang dimentor ASPPUK, melalui program “Empowering Youth For Works”, bekerjasama OXFAM.

Covid-19 menimpa kehidupan kita selama sembilan bulan. Kondisi ini memberi pelajaran penting bagi kehidupan perempuan pelaku usaha mikro atau dikenal sektor informal. Seringkali pandemi memaksa keadaan untuk berubah. Bila tidak, secepatnya akan tergilas. Itulah yang kini dialami perempuan pelaku sektor informal terhadap berbagai tantangan baik teknis dan kultural termasuk ketidakadilan gender. Secara umum, persoalan perempuan pelaku sektor informal berat. Bila sebelum pandemi, mereka menjalankan beban usaha dan tugas rumah tangga sekaligus, kini saat PSBB (pembatasan berskala besar) diberlakukan, bebannya bertambah. Karena di masyarakat patriarkhal, meski perempuan telah menjalankan aktifitas ekonomi, tugas domistik tak berkurang. Pasangan suami sulit berbagi tugas dengannya.

Selasa, 02 Februari 2021

PEMBINA(SA)AN KOPERASI


Ketika penulis lakukan survei kecil-kecilan kepada orang awam tentang koperasi, kebanyakkan dari mereka melihatnya koperasi itu identik dengan usaha skala kecil,  simpan pinjam, dan sebagai tempat penyaluran bantuan.

Kalau dilihat dari masalah cara pandang yang paling menonjol adalah koperasi diidentikkan dengan usaha kecil kecilan.  Bahkan cara pandang ini sudah merasuk ke pemimpin republik ini.

Ini dapat dilihat dari penamaan sebuah kementerian. Koperasi dikapling secara permanen sebagai obyek pembina(sa)an sebuah kementerian, yaitu Kementerian Koperasi Dan UKM. Sudah berjalan sejak lebih setengah abad silam.

Kementerian ini dari dulu kerjanya membuat proyekan. Bikin aktifitas yang tak berguna hingga habis ratus trilyunan.

Sementara,  pekerjaan penting untuk hapuskan peraturan yang menghambat perkembangan koperasi malah tidak dipedulikan.

UMKM Center Jateng, Sebagai Pusat Penguatan Daya Saing Koperasi & UMKM


UMKM Center merupakan fasilitas yang disediakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dibawah pengelolaan Dinas Koperasi dan UMKM untuk meningkatkan daya saing Koperasi dan UMKM melalui penyediaan informasi bisnis, pendampingan usaha, fasilitas pembiayaan, pusat promosi, galeri pemasaran dan pengembangan jaringan usaha. Bertempat di Jalan Setiabudi 192 Srondol Wetan Banyumanik Semarang.

UMKM Center Jawa Tengah bertekad untuk memberikan pelayanan terbaik bagi KUMKM dalam mengembangkan usahanya sebagai "PUSAT BELANJA SOUVENIR DAN MAKANAN KHAS JAWA TENGAH".

Adapun layanan yang diberikan oleh UMKM Center Jateng di antaranya:
  1. Pusat Informasi Usaha, menyediakan informasi yang diperlukan untuk memulai usaha (start up business), menjalankan usaha termasuk diantaranya teknologi tepat guna yang dipakai dalam mengembangkan usaha.
  2. Konsultasi Bisnis UMKM, didampingi oleh konsultan pendamping UMKM berkompeten yang akan membimbing dan mendampingi UMKM dari sisi manajemen dan teknis.
  3. Layanan Akses Pemasaran, bekerjasama dengan Kadin Indonesia dan pihak terkait yang menyediakan informasi pasar termasuk menjalin kemitraan dengan International Trade Promotion Center – ITPC yang ada di luar negeri.
  4. Business Matching dan Trading House, bekerjasama dengan perusahaan retail besar dalam bidang pemasaran dan membantu pembuatan kontrak dagang bagi KUMKM.

Jumat, 29 Januari 2021

SDGs Desa; Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dari Desa

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk dunia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. Sebagai bagian dari upaya untuk mencapai target tujuan pembangunan berkelanjutan nasional (SDGs Nasional) hingga ke tingkat desa, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menerbitkan Permendesa PDTT No. 13 Tahun 2020 yang berfokus pada SDGs desa. Dalam regulasi ini diatur tentang prioritas penggunaan dana desa pada tahun 2021 yang juga fokus terhadap upaya pencapaian SDGs. Permendesa PDTT Nomor 13 tahun 2020 ini dilatarbelakangi pemikiran terkait dengan model pembangunan nasional yang didasarkan pada Peraturan Presiden Nomor 59 tahun 2017 terkait dengan pelaksanaan pencapaian tujuan pembangunan nasional berkelanjutan.

Apa itu SDGs Desa?
SDGs Desa merupakan upaya konkret dalam membangun bangsa. SDGs Desa adalah turunan dari Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang pelaksanaan pencapaian tujuan pembangunan nasional berkelanjutan atau SDGs Nasional. Tujuannya adalah agar SDGs nasional dapat tercapai melalui upaya pencapaian SDGs desa secara terpadu.