Rabu, 13 Desember 2017

Kisah Sumur Raumah dan Kemurahan Hati Sahabat Nabi


Dream - Begitu banyak tempat dan bangunan di Arab Saudi menjadi saksi sejarah kehidupan masyarakat pada masa nabi dan rasul. Salah satu di antaranya adalah sumur Raumah. Keberadaan Raumah memang tak menjadi sorotan banyak orang layaknya peninggalan-peninggalan bersejarah lain, seperti Masjid Al Haram, Masjid Nabawi, atau Kompleks Pemakaman Junnat Al Baqi. Namun ternyata, di balik sumur ini tersimpan kisah menarik seputar kedermawanan sahabat Rasulullah SAW, Khalifah Utsman bin Affan.
Sumur Raumah merupakan salah satu peninggalan sejarah masa Khalifah Utsman bin Affan RA. Sumber air ini berada tepat di sebelah Masjid Qiblatain, Madinah, Arab Saudi. Dahulu, masjid ini dimiliki oleh seorang Yahudi. Dikisahkan, pada masa itu Rasulullah dan kaum Muhajirin tengah berada di kota Madinah. Kala itu Madinah sedang dalam kondisi paceklik. Masyarakatnya sulit mendapatkan air bersih, baik untuk minum maupun berwudhu. Keadaaan ini tentu saja sangat menyulitkan kaum Muhajirin. Lantaran mereka terbiasa hidup dengan air zam-zam melimpah di Kota Mekah.
Satu-satunya sumber air yang bisa diandalkan saat itu adalah sumur Raumah. Kondisi ini dimanfaatkan oleh si pemiliki sumur untuk memperjualbelikan air miliknya. Masyarakat Madinah diwajibkan membeli dan antre untuk mendapatkan air dari sumur Raumah. Mendengar hal itu, sahabat nabi yang dermawan, Khalifah Utsman bin Affan berusaha membebaskan sumur tersebut dari pemiliknya. Beliau mendatangi rumah pemilik sumur dan menawarnya dengan harga yang tinggi.

Selasa, 12 Desember 2017

Filosofo Bersepeda


Yang suka sepeda dan menjiwai, tahu bener akan hal ini :
Ada tanjakan ada turunan …
Saat sedang menanjak, janganlah terlalu bernafsu mencapai puncak. Atur nafas, atur tenaga, konstankan putaran. supaya efektif mencapai puncak dan konsentrasi tetap ada untuk menghadapi turunan.

Saat sedang menurun, janganlah kaget hingga terlalu cepat menarik rem, kamu akan terjungkal dan makin terpuruk.
Ikuti alur jalannya, seimbangkan remnya, ambil momentum putarannya, hingga saat kamu menanjak kamu tidak membuang tenaga.

Bersepeda itu bukan masalah jumlah kilometer. Tapi lebih pada menikmati setiap kayuhan untuk mendapatkan tiap kilometer itu.
Begitupula kehidupan. Hidup menarik bukan karena jumlah umur, tapi bagaimana kita menikmati setiap detik untuk mendapatkan umur tersebut.

Kisah Mengagumkan Naufal Raziq, Bocah Aceh Penemu Energi Listrik dari Pohon Kedondong


JawaPos.com - Energi baru dan terbarukan di Indonesia belum banyak ditemukan. Namun, sebuah penemuan membanggakan lahir dari seorang bocah asal Aceh. Naufal Raziq berhasil menemukan energi listrik dari pohon kedondong pagar. Bagaimana kisahnya?

Oleh: Syahrir Lantoni, JAKARTA

NADA bicaranya teratur, penjelasannya runtut. Usianya baru 15 tahun, tapi layaknya sudah dewasa. Namanya Naufal Raziq. Walau hanya bocah Kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Negeri, tapi dia adalah penemu energi listrik dari pohon kedondong (Spondias Dulcis Forst).

Rabu (10/5) lalu, INDOPOS (Jawa Pos Group) menemui Naufal dan ayahnya di kawasan Tebet Jakarta Selatan. Saat berbincang, siswa kelas III MTS Negeri Langsa Lama, Kota Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) itu cukup cekatan menjelaskan penemuan energi listrik dari dalam batang pohon kedondong pagar.

Naufal juga memperlihatkan tiga pohon yang sudah dipermak menjadi sumber listrik. Energi listrik dari pohon kedondong itu biasa menjadi pagar halaman rumah warga di Langsa. Untuk menghasilkan energi listrik, pohon itu dipasangi rangkaian yang terdiri pipa tembaga, batangan besi, kapasitor, dan dioda.

Rabu, 20 September 2017

Kisah Sebatang Pohon Apel


Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke pucuk pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula pohon apel sangat mencintai anak kecil itu.

Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya. Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih.

“Ayo ke sini bermain-main lagi denganku,” pinta pohon apel itu.

“Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi,” jawab anak lelaki itu.

“Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tak punya uang untuk membelinya.”

Senin, 28 Agustus 2017

"Bolehkah Aku Membeli Waktu Papa 1 jam saja?"


Pada suatu hari, seorang Ayah pulang dari bekerja pukul 21.00 malam. Seperti hari-hari sebelumnya, hari itu sangat melelahkan baginya. Sesampainya dirumah ia mendapati anaknya yang berusia 8 tahun yang duduk di kelas 2 SD sudah menunggunya di depan pintu rumah. Sepertinya ia sudah menunggu lama.

"Kok belum tidur?" sapa sang Ayah pada anaknya.
Biasanya si anak sudah lelap ketika ia pulang kerja, dan baru bangun ketika ia akan bersiap berangkat ke kantor di pagi hari.
"Aku menunggu Papa pulang, karena aku mau tanya berapa sih gaji Papa?"
"Lho,tumben, kok nanya gaji Papa segala? Kamu mau minta uang lagi ya?"
"Ah, nggak pa, aku sekedar pengin tahu aja…"
"Oke, kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Papa bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,00 setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi gaji Papa satu bulan berapa, hayo?!"
Si anak kemudian berlari mengambil kertas dari meja belajar sementara Ayahnya melepas sepatu dan mengambil minuman.

Kamis, 13 Juli 2017

BUMDes dan Ekonomi Kerakyatan


Desa-desa tampak mulai bergeliat dengan berbagai potensi yang dimilikinya. Di bawah pengelolaan badan usaha milik desa, sejumlah desa wisata bahkan telah membuat sebuah desa menjadi sangat mandiri. Tengoklah Desa Ponggok (Klaten) yang beromzet Rp 1,3 miliar per tahun, Desa Bleberan (Gunung Kidul) beromzet Rp 2 miliar per tahun, Desa Karang Duwur (Kebumen) beromzet Rp 1 miliar per tahun, atau Desa Kertayasa (Pangandaran) yang beromzet Rp 300 juta per tahun.

Beberapa desa di atas adalah contoh kecil dari desa-desa di pelosok Tanah Air yang mulai sadar memetakan potensi yang dimilikinya. Keberadaan dana desa punya andil besar dalam mendorong tumbuhnya badan usaha milik desa (BUMDes) di desa-desa. Dana desa yang terus mengalami peningkatan memang telah memberi harapan tersendiri bagi pembangunan di desa. Dari anggaran sebesar Rp 20,5 triliun pada 2015, kemudian Rp 47 triliun tahun 2016, dan pada 2017 dana desa meningkat menjadi Rp 60 triliun.

Selasa, 11 Juli 2017

Koperasi dan Ketimpangan


Tanggal 12 Juli selalu diperingati sebagai hari koperasi dunia. Sudah dua hari ini, Senin (10 Juli 2017) dan Selasa (11 Juli 2017) HU Kompas menurunkan headline tentang Koperasi. Hari koperasi tahun 2017, berdampingan dengan pelaksanaan KTT G-20, di Hamburge, Jerman. Salah satu seruan Presiden Joko Widodo dalam pidato di KTT adalah tingginya ketimpangan antara kelompok “the have” dan “the have not”. Di sinilah letak “relevansi” pembicaraan dua topik tersebut. Sejatinya model koperasi menjadi “opsi” pengurai ketimpangan. Sayang, topik itu tidak menjadi fokus pembicaraan KTT.

Padahal, realitasnya koperasi makin signifikan terhadap kondisi perekonomian dunia. Penulis teringat hasil diskusi tentang “koperasi sebagai tulang punggung ekonomi bekelanjutan” (cooperative for sustainable future), 17 Juli 2016, di auditorium Magister Management UI Salemba, Jakarta, yang digagas Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (FEB Universitas Indoensia). 

Dalam diskusi, terungkap kajian FEB UI bahwa di negara yang memiliki kooperasi maju, akan berdampak pada kontribusi siginifikan PDB (produk domistik bruto) negrinya. Contoh, di Swedia, dari 5 kooperasi besar bila dijumlahkan mencapai 3,49% dari PDB atau senilai 200 trilyun.

Rabu, 05 Juli 2017

Fisikku Memang Tidak Sempurna, Tapi Jangan Ragukan Semangatku


Melihat Li Longbiao, orang-orang pasti tahu bahwa pemuda berusia 23 tahun yang lahir di sebuah kota kecil di provinsi Guangdong, China ini memiliki fisik yang berbeda dari yang lainnya. Dilansir dari Shanghaiist.com, Li terlahir dengan sangat normal, hanya saja setelah beberapa bulan lahir ke dunia ini Li didiagnosis mengidap tumor tulang belakang.

Karena tak memiliki uang, Li mendapatkan perawatan seadanya, operasinya gagal. Bukan hanya tumornya tak terangkat, tapi Li juga harus menerima operasi yang telah dilakukannya merusak saraf kakinya. Akibatnya, kaki Li tak bisa tumbuh dengan normal, ia tak bisa berjalan seperti orang lainnya, seumur hidupnya ia harus berjalan menggunakan alat bantu.

Selasa, 04 Juli 2017

Desa Jamu Nguter, Cetak Pengusaha Jamu Dari Gendongan Hingga Pabrikan


Melaju dari Sukoharjo menuju Wonogiri akan terlihat banyak toko jamu berjajar dan sejumlah gapura bertuliskan Desa Jamu. Dua hal tersebut menunjukkan telah sampai di Desa Nguter, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, tempat tinggal ratusan produsen jamu. Berkat puluhan tahun warga Nguter memproduksi jamu, desa tersebut mengangkat nama Kabupaten Sukoharjo sebagai Kabupaten Jamu.

Warga Nguter turun temurun mewarisi resep dan cara membuat jamu tradisional. Dulu awalnya mereka menggendong botol-botol jamu dan menjajakannya berkeliling. Tak hanya di sekitar Desa Nguter, para penjual jamu gendong tersebut banyak yang akhirnya melancong ke kota besar, mengadu nasib sebagai penjual jamu.

Senin, 03 Juli 2017

Perempuan Usaha Kecil, antara ADA dan TIADA


Pengelolaan sumber daya alam menuju proses kemandirian pangan membutuhkan peran penting Perempuan Usaha Kecil (PUK) yang berada dari hulu hingga hilir. PUK berada dalam posisi meningkatkan ketersediaan pangan, mengembangkan diversifikasi dan kelembagaan pangan, serta mengembangkan usaha pangan, dimana produksi, reproduksi, dan konsumsi merupakan satu kesatuan mata rantai yang harus dijaga keberlangsungannya. Pengelolaan sumber daya alam erat kaitannya dengan kemandirian pangan.

Kesepakatan perdagangan bebas menjadi tantangan terbesar yang dihadapi oleh PUK dalam mengelola pangan menjadi usaha produktif yang berkelanjutan. Ironisnya lonjakan impor terjadi pada produk-produk konsumsi, seperti holtikultura, serta makanan dan minuman olahan. Benih lokal dan bahan baku lokal seperti jagung, kedelai bahkan singkong terancam keberadaannya karena kran impor yang dibuka selebar-lebarnya.  Gambaran nyata tersebut menyiratkan bahwa ada persoalan serius dalam pengelolaan  perekonomian di Indonesia. Implikasinya terhadap perekonomian rakyat semakin terpinggirkan, kedaulatannya terancam.

Senin, 05 Juni 2017

Puasa untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem

Selamat Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2017


Pada dasarnya semua makhluk hidup membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, sederhananya makanan seperti bahan bakar kendaraan, tanpa bahan bakar maka kendaraan tidak akan bisa berjalan. Manusia mungkin hanya dapat bertahan hidup selama beberapa hari saja tanpa makan dan minum, tetapi beberapa hewan ini dapat bertahan hidup dalam waktu bulanan bahkan puluhan tahun. Di alam semua makhluk hidup mengikuti irama Sunatullah yang kita kenal dengan rantai makanan.

Pada tiap jaring makanan, energi akan hilang setiap kali memakan satu organisme lain. Karena itu, harus ada lebih banyak tanaman dari ada pemakan tumbuhan. Harus ada lebih banyak pemakan tumbuhan daripada pemakan daging. Meskipun ada persaingan yang ketat antara hewan, ada juga saling ketergantungan. Bila salah satu spesies punah, hal itu dapat mempengaruhi seluruh rantai spesies lain dan memiliki konsekuensi tak terduga.

Rabu, 11 Januari 2017

Soal Kemampuan, Inilah Jawaban Elegan dari Tukang Bakso


Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk mengurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai.

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk mengurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik-rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor, terdengar suara tek… tek… tek… Suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat, saya hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso, setelah menanyakan anak-anak, siapa yang mau bakso? “Mau,” secara serempak dan kompak anak-anak asuh saya menjawab.