Tampilkan postingan dengan label Desa Mandiri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Desa Mandiri. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 April 2021

SDGs Desa Sebagai Jawaban Atas Berbagai Persoalan yang Dihadapi oleh Desa


CERITAWARGA
.com, JAKARTA
 | Komitmen terhadap implementasi pembangunan berkelanjutan desa (Sustainable Development Goals/SDGs Desa) menjadi tantangan bukan hanya bagi pemerintah, tetapi juga seluruh pihak yang peduli dengan desa.

“Keberhasilan SDGs tidak dapat dilepaskan dari peranan penting sinergisitas pemerintah, masyarakat, hingga swasta (perusahaan),” kata Ketua Umum Sahabat Desa Nusantar (SDN), Ahmad Yani Budi Santoso yang dikutip media ini dari situs resmi sahabatdesanusantara.com, pada Kamis (11/2/2021).

Sebelumnya, hal itu disampaikan Ahmad Yani Budi Santoso dalam Bincang Sore ‘Karsa Desa’ perdana yang diselenggarakan secara virtual oleh Sahabat Desa Nusantara (SDN) bekerjasama dengan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) pada Jumat 5 Februari 202 lalu.

Jumat, 29 Januari 2021

SDGs Desa; Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan dari Desa

Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan suatu rencana aksi global yang disepakati oleh para pemimpin dunia, termasuk dunia, guna mengakhiri kemiskinan, mengurangi kesenjangan dan melindungi lingkungan. Sebagai bagian dari upaya untuk mencapai target tujuan pembangunan berkelanjutan nasional (SDGs Nasional) hingga ke tingkat desa, Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menerbitkan Permendesa PDTT No. 13 Tahun 2020 yang berfokus pada SDGs desa. Dalam regulasi ini diatur tentang prioritas penggunaan dana desa pada tahun 2021 yang juga fokus terhadap upaya pencapaian SDGs. Permendesa PDTT Nomor 13 tahun 2020 ini dilatarbelakangi pemikiran terkait dengan model pembangunan nasional yang didasarkan pada Peraturan Presiden Nomor 59 tahun 2017 terkait dengan pelaksanaan pencapaian tujuan pembangunan nasional berkelanjutan.

Apa itu SDGs Desa?
SDGs Desa merupakan upaya konkret dalam membangun bangsa. SDGs Desa adalah turunan dari Peraturan Presiden Nomor 59 Tahun 2017 tentang pelaksanaan pencapaian tujuan pembangunan nasional berkelanjutan atau SDGs Nasional. Tujuannya adalah agar SDGs nasional dapat tercapai melalui upaya pencapaian SDGs desa secara terpadu.

Kamis, 26 Maret 2020

#DesaLawanCorona


Saatnya desa ambil peran dalam gerakan #BersamaLawanCorona #COVID19Indonesia. Optimalkan berbagai sumberdaya yang ada di desa untuk mendukung gerakan ini.

Mungkin muncul pertanyaan dari PemDes, "Terus apa yang bisa kami lakukan?"

Nih ada beberapa ALTERNATIF UPAYA yang bisa dilakukan!

  1. Bentuk Tim Reaksi Cepat (TRC) Siaga Covid -19 tingkat Desa
  2.  Bentuk WA Grup “Kabar Warga” ditingkat RT yang didalamnya ada anggota TRC Siaga Covid-19. 
  3. Sosialisasikan Perilaku Hidup Bersih Sehat dan Cuci Tangan Pakai Sabun melalui; (a) WA Grup, (b) Door to Door, (c) Pengeras suara Masjid, (d) Panflet/selebaran. 
  4. Sosialisasikan Cara Pencegahan Penularan Virus Covid-19 melalui; (a) WA Grup, (b) Door to Door, (c) Pengeras suara Masjid, (d) Panflet/selebaran. 
  5. Sosialisasikan Disinfeksi secara Mandiri melalui; (a) WA Grup, (b) Door to Door, (c) Pengeras suara Masjid, (d) Panflet/selebaran. 
  6. Fungsikan Siskamling Warga 
  7. Fungsikan Lumbung Pangan Warga dengan jimpitan beras/bahan makanan pokok lainnya. 
  8. Fungsikan peran Karang Taruna sebagai Relawan 
  9. Bangun sistem keamanan dan informasi warga yang efektif.

Minggu, 20 Januari 2019

6 Festival di Nusa Tenggara Timur yang Wajib Didatangi


“Nusa Tenggara Timur harus menjadi salah satu tujuan paling dicari di dunia, karena memiliki sifat yang unik dan budaya yang berbeda.” Wakil Gubernur NTT, Josef Adrianus Nai Soi


Untuk menarik lebih banyak wisatawan ke wilayah ini, Nusa Tenggara Timur juga mengadakan enam festival tahunan yang telah diakui oleh pemerintah provinsi. Berikut enam festival di Nusa Tenggara Timur tersebut:

1. Festival Berburu Paus Lembata
Festival ini merayakan penangkapan paus menggunakan alat-alat tradisional, yang secara teratur diadakan oleh orang-orang Lamalera di Kabupaten Lembata. Festival ini melambangkan kerja tim dan kesatuan para nelayan di daerah tersebut, dengan aturan tertentu yang membuat praktik ini ramah lingkungan. Hanya jenis paus tertentu yang diizinkan ditangkap dan alat yang digunakan terbatas pada yang tradisional.

Jumat, 11 Januari 2019

Kompilasi Buku Saku Pembangunan dan Pemberdayaan Desa




"Jangan remehkan desa. Dari desa semua berasal, Indonesia memiliki 74.910 desa, masing-masing memiliki potensi yang berbeda. Jika dikapitalisasi dengan benar, desa menjadi kekuatan luar biasa yang akan menopang perekonomian tanah air." Nur Efendi, CEO Rumah Zakat

Pembangunan dan pemberdayaan di wilayah desa diharapkan mampu melahirkan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkelanjutan, menuju kemandiriannya. Kemandirian Desa merupakan cerminan harapan dan kemauan masyarakat desa yang kuat untuk maju, menghasilkan produk/karya desa yang unggul, serta memampukan desa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.

Minggu, 21 Oktober 2018

Ayo Mengabdi "mBangun Deso"

 

“Mengenal dan membangun Indonesia dari beragam sudut perspektif kegiatan Traveling yang bermakna. Hanya satu tanah air ku, Ia berkembang hanya dengan usahaku. Dimulai dari hal kecil, dari diri kita masing-masing, karena kejayaan Indonesia berada di tangan pemuda.” ~Agent Inovator MD


Ayo Mengabdi  merupakan kegiatan pengabdian daerah tertinggal, terluar dan terdepan (3T) yang terbuka untuk masyarakat umum lintas disiplin ilmu. Ayo mengabdi dirancang untuk mengembangkan dan menghubungkan daerah 3T di seluruh Indonesia. Pengabdian yang dilakukan meliputi bidang ekonomi, pendidikan, peternakan, kesehatan dan pariwisata Melalui kegiatan ini kamu akan diajak mengenal lebih dekat kearifan lokal dan sisi lain dari daerah 3T. Dengan semangat volountarism kami mengajak seluruh pemuda-pemudi Indonesia untuk menjadi garda terdepan dalam mengembangkan daerah 3T.

Minggu, 14 Oktober 2018

Pemuda, penggejolak keberdayaan desa




“Jangan takut perubahan, kita mungkin kehilangan sesuatu yang baik, namun kita akan memperoleh sesuatu yang lebih baik.” -Andrew Nugraha

Dulu, desa identik dengan kemiskinan, kumuh, dan keterbelakangan. Mayoritas masyarakat desa, terutama para generasi muda, malu untuk mengakui desa sebagai tempat kelahiran dan tempat asal mereka. Sehingga, mereka lebih memilih untuk mencari kerja di perkotaan setelah menyelesaikan pendidikan formal di sekolah. Dampaknya, desa pun semakin terpuruk dalam lubang kelam, karena generasi muda sebagai angkatan produktif tidak mau terlibat dalam proses-proses pembangunan di desanya.
Namun saat ini, pasca implementasi UU Desa No 6 tahun 2014, geliat perubahan mulai bermunculan di pelosok-pelosok desa. Hal ini didorong dengan berbagai peluang yang mengiringi penerapan UU Desa tersebut. Secara penuh, desa diberikan otoritas (kewenangan) dalam mengembangkan dan memajukan desa masing-masing. Desa menjadi objek sekaligus subjek pembangunannya sendiri, dengan dukungan Alokasi Dana Desa (ADD). Hingga tahun ini, pemerintah telah menyalurkan Dana Desa sebesar Rp 187,65 triliun, dengan rata-rata desa mendapatkan dana antara Rp. 800 juta hingga Rp. 1 miliar tergantung luas wilayah dan jumlah penduduknya, dan akan terus ditingkatkan di tahun-tahun mendatang.

Rabu, 03 Oktober 2018

Pemberdayaan Masyarakat Kunci Desa Mandiri


Mandiri didefinisikan sebagai keadaan dimana satu pihak dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada pihak-pihak lain. Namun, kemandirian (independence) juga dinyatakan sebagai prespektif yang sama sekali berbeda dengan saling ketergantungan (interdependence). Kondisi saling ketergantungan mensyaratkan kolaborasi dan sinergitas multi pihak. Arah dan ukuran keberhasilan pembangunan kini akan sangat ditentukan seberapa besar irisan sinergi dapat dilakukan oleh tiga pihak pelaku pembangunan (pemerintah, sektor usaha dan masyarakat sipil), dalam ruang kesetaraan dialog yang cukup luas bagi begitu kompleksnya permasalahan dan kondisi yang sesungguhnya kini dihadapi masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat di era globalisasi menghadapkan kita pada tantangan yang besar. Tantangan itu terlihat dalam ketidakstabilan ekologi, ekonomi, politik, sosial, dan kultural yang tampak nyata dalam pelanggaran HAM, degradasi lingkungan, eksploitasi ekonomi dan politik. Melihat tantangan yang kompleks ini, kebutuhan akan strategi pemberdayaan masyarakat (Desa) yang secara khusus diharapkan mampu:

  1. merespon kondisi dan permasalahan masyarakat desa yang sangat spesifik di masing-masing wilayah;
  2. membangun strategi pemberdayaan masyarakat yang mampu mendorong terwujudnya konsep desentralisasi pembangunan dan otonomi daerah dengan membangkitkan dan mempertautkan segenap potensi kemampuan para pihak pada tingkat lokal itu sendiri,
  3. membangun pemberdayaan yang memiliki perspektif jangka panjang dan tetap memegang teguh prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.