Tampilkan postingan dengan label Kedaulatan Pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kedaulatan Pangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 September 2021

Rahmat Adinata dan Mimpi Jadikan Sumba Pulau Organik

 


  • Rahmat Adinata asli dari Jawa Barat. Pada tahun 2012 ia datang ke Sumba, karena saat itu ada rawan pangan yang melanda Pulau Sumba akibat El Nino.
  • Pertanian organik jadi pilihan perkembangan karena tanah, air dan udara di Pulau Sumba belum banyak terkontaminasi polusi dan bahan kimia sintesis
  • Untuk merubah pola pikir petani, Rahmat mendirikan sekolah lapang organik bagi kelompok-kelompok tani di Sumba Timur dan Sumba Barat Daya
  • Lewat pertanian organik petani dapat menanam padi, hortikultura, dan pangan lokal dengan lebih baik. Hasilnya, terdapat peningkatan pendapatan petani hingga 30%.

***

Pulau Sumba dikenal sebagai pulau karang, yang identik dengan perbukitan dan padang savana. Banyak orang yang lebih mengenal Sumba dengan kuda sandalwood dan hasil ternaknya. Meski demikian, pertanian organik mulai menggeliat di tanah Marapu ini.

Salah seorang pelopor pertanian organik di Sumba adalah Rahmat Adinata, atau yang populer dipanggil Rahmat Organik. Sosok berusia 55 tahun ini amat terkenal di kalangan petani di Sumba. Banyak sudah kelompok tani di Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Barat Daya yang telah ia dampingi dan pada akhirnya berhasil.

Rabu, 22 Juli 2020

Belajar Berkebun Yuk! Sisa 8 Sayuran Ini Bisa Ditanam Lagi

Ingin mulai berkebun di rumah? Tak perlu repot-repot membeli benih, kita bisa memanfaatkan sisa sayuran yang telah kita gunakan untuk memasak, untuk di tanam kembali. Kegiatan ini sangatlah mudah dan ekonomis. Kuncinya kita cukup menyediakan pot, tanah, air dan lokasi yang terpapar sinar matahari agar tanaman bisa tumbuh subur di sana. Mau tahu apa sajakah jenis sayuran yang bisa ditanam dan dimanfaatkan kembali? Ini 8 diantaranya yang bisa langsung kita praktekkan di rumah.

1. Selada

Belajar Berkebun Yuk! Sisa 8 Sayuran Ini Bisa Ditanam Lagi 
Usai menikmati selada untuk salad jangan buru-buru buang bonggolnya. Tempatkan bonggol tersebut yang terletak di bagian bawah selada ke dalam mangkok berisi air. Dalam kurun waktu 3-5 hari akan tumbuh tunas daun selada baru.  Setelah muncul, baru kemudian pindahkan ke dalam pot dan tanah. Hanya dalam waktu kurang lebih 2 minggu daun selada sudah bisa kamu panen di rumah. 

Rabu, 03 Oktober 2018

Pemberdayaan Masyarakat Kunci Desa Mandiri


Mandiri didefinisikan sebagai keadaan dimana satu pihak dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada pihak-pihak lain. Namun, kemandirian (independence) juga dinyatakan sebagai prespektif yang sama sekali berbeda dengan saling ketergantungan (interdependence). Kondisi saling ketergantungan mensyaratkan kolaborasi dan sinergitas multi pihak. Arah dan ukuran keberhasilan pembangunan kini akan sangat ditentukan seberapa besar irisan sinergi dapat dilakukan oleh tiga pihak pelaku pembangunan (pemerintah, sektor usaha dan masyarakat sipil), dalam ruang kesetaraan dialog yang cukup luas bagi begitu kompleksnya permasalahan dan kondisi yang sesungguhnya kini dihadapi masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat di era globalisasi menghadapkan kita pada tantangan yang besar. Tantangan itu terlihat dalam ketidakstabilan ekologi, ekonomi, politik, sosial, dan kultural yang tampak nyata dalam pelanggaran HAM, degradasi lingkungan, eksploitasi ekonomi dan politik. Melihat tantangan yang kompleks ini, kebutuhan akan strategi pemberdayaan masyarakat (Desa) yang secara khusus diharapkan mampu:

  1. merespon kondisi dan permasalahan masyarakat desa yang sangat spesifik di masing-masing wilayah;
  2. membangun strategi pemberdayaan masyarakat yang mampu mendorong terwujudnya konsep desentralisasi pembangunan dan otonomi daerah dengan membangkitkan dan mempertautkan segenap potensi kemampuan para pihak pada tingkat lokal itu sendiri,
  3. membangun pemberdayaan yang memiliki perspektif jangka panjang dan tetap memegang teguh prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

Rabu, 19 September 2018

Pesona Nasi Goreng

Sejarah nasi goreng bermula dari sisa makanan semalam yang sayang jika terbuang. Ia menjadi salah satu penganan pilihan dari Indonesia.

 

LOUISA Johanna Theodora Wieteke van Dort kena imbas hubungan Indonesia-Belanda yang memanas akibat konflik Irian Barat pada 1957. Perempuan kelahiran Surabaya itu terpaksa angkat kaki dari tanah kelahirannya dan pulang ke negeri leluhurnya, Belanda.

Setibanya di Den Haag, Wieteke berkeluh kesah. Dia tak pernah menyangka iklim di Belanda begitu dingin. Namun yang paling buruk di sana adalah makanannya. Lebih buruk daripada makanan yang didapatnya dalam kapal selama perjalanan menuju Eropa.

“Benar-benar payah!” ungkap Wieteke merujuk makanan Belanda. “Beri saja aku nasi goreng dengan omelet (telur dadar),” demikian harapannya.


Senin, 05 Juni 2017

Puasa untuk Menjaga Keseimbangan Ekosistem

Selamat Hari Lingkungan Hidup 5 Juni 2017


Pada dasarnya semua makhluk hidup membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, sederhananya makanan seperti bahan bakar kendaraan, tanpa bahan bakar maka kendaraan tidak akan bisa berjalan. Manusia mungkin hanya dapat bertahan hidup selama beberapa hari saja tanpa makan dan minum, tetapi beberapa hewan ini dapat bertahan hidup dalam waktu bulanan bahkan puluhan tahun. Di alam semua makhluk hidup mengikuti irama Sunatullah yang kita kenal dengan rantai makanan.

Pada tiap jaring makanan, energi akan hilang setiap kali memakan satu organisme lain. Karena itu, harus ada lebih banyak tanaman dari ada pemakan tumbuhan. Harus ada lebih banyak pemakan tumbuhan daripada pemakan daging. Meskipun ada persaingan yang ketat antara hewan, ada juga saling ketergantungan. Bila salah satu spesies punah, hal itu dapat mempengaruhi seluruh rantai spesies lain dan memiliki konsekuensi tak terduga.

Senin, 07 November 2016

Foodstartup Indonesia Temukan Pebisnis Kuliner, Pakar, dan Pemodal


Foodstartup Indonesia merupakan event yang digagas oleh Badan Ekonomi Kreatif Indonesia, dimana pada event tersebut para pemula di industri kuliner bakal dipertemukan dengan professional di bidang kuliner, serta pemberi akses permodalan.

Untuk pertama kalinya digelar di Indonesia, Foodstartup Indonesia 2016 ini rencananya akan diselenggarakan di Yogyakarta, tepatnya pada tanggal 28 – 30 November 2016 di The Alana Yogyakarta Hotel & Covention Center. Event ini menjadi ajang pelatihan, pembekalan, validasi ide, mentorship, dan pitching sebagai persiapan tahap perkembangan berikutnya.

Pada event Foodstartup Indonesia 2016 ini akan disaring sekitar 50 foodstartup dari Jawa Tengah, dan Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan kriteria produk kuliner yang menarik, tentunya mengutamakan unsur kreativitas dan menggunakan unsur teknologi dalam pengolahan atau pemasarannya.

Selasa, 28 Juli 2015

Kedaulatan Pangan Lokal Yang Berkelanjutan

Beberapa tahun terakhir  Indonesia diributkan persoalan impor pangan yang tak berkesudahan. Semenjak terjadi krisis ekonomi pada 1997, kondisi pangan di Indonesia semakin terpuruk. Saat pemerintah menandatangani perjanjian utang dengan IMF yang menyaratkan kewajiban yang harus dipenuhi oleh Indonesia, salah satunya adalah impor bahan pangan, dampaknya semakin nyata terutama semakin besarnya ketergantungan pada bahan pangan impor. Bahkan, beras yang katanya merupakan menu wajib masyarakat Indonesia pun telah terintimidasi dengan produk beras impor.

Di sisi lain, petani harus terus berjuang keras melawan derasnya arus bahan pangan impor tanpa ada mekanisme pengaman yang kuat dari pemerintah. Inilah titik balik kehancuran pangan di Indonesia. Sebagai salah satu negara berkembang, Indonesia berada di bawah tekanan global yang cukup besar, dengan aturan perdagangan internasional yang tidak adil. Tentulah situasi ini berimbas di level daerah di mana petani sangat tergantung pada kebijakan pemerintah, tak ketinggalan juga terjadi di wilayah Jawa Tengah. Menilik perkembangan produksi pertanian di Jawa Tengah saat ini, yang secara statistik mampu mencukupi kebutuhan pangan masyarakat (utamanya beras), yang bahkan mampu berkontribusi terhadap produksi beras nasional, semestinya krisis pangan tidak terjadi di Jawa Tengah. Namun, fakta berbicara sebaliknya. Tingkat kerawanan pangan di Jawa Tengah cukup mengkhawatirkan.