Senin, 12 April 2021

SDGs Desa Sebagai Jawaban Atas Berbagai Persoalan yang Dihadapi oleh Desa


CERITAWARGA
.com, JAKARTA
 | Komitmen terhadap implementasi pembangunan berkelanjutan desa (Sustainable Development Goals/SDGs Desa) menjadi tantangan bukan hanya bagi pemerintah, tetapi juga seluruh pihak yang peduli dengan desa.

“Keberhasilan SDGs tidak dapat dilepaskan dari peranan penting sinergisitas pemerintah, masyarakat, hingga swasta (perusahaan),” kata Ketua Umum Sahabat Desa Nusantar (SDN), Ahmad Yani Budi Santoso yang dikutip media ini dari situs resmi sahabatdesanusantara.com, pada Kamis (11/2/2021).

Sebelumnya, hal itu disampaikan Ahmad Yani Budi Santoso dalam Bincang Sore ‘Karsa Desa’ perdana yang diselenggarakan secara virtual oleh Sahabat Desa Nusantara (SDN) bekerjasama dengan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) pada Jumat 5 Februari 202 lalu.

UMKM Naik Kelas, Perlu Sinergi Multipihak


“Perlu sinergi gerakan multipihak dalam mendukung UMKM untuk bangkit dan naik kelas pasca pandemi Covid-19.
Karena saat ini masing-masing pihak di Kabupaten Gunungkidul, baik pemerintah melalui dinas terkait, swasta melalui program CSR-nya, NGO/LSM, maupun jejaring UMKM lainnya (IWAPI, ASPEMAKO) masih terkesan berjalan sendiri-sendiri, sehingga kurang optimal kerjan-kerja pendampingannya.” ujar Iwan Setiyoko, Direktur YSKK dalam kegiatan Forum Sinergi Multipihak dengan tema “Upaya pemulihan ekonomi – UMKM di Kabupaten Gunungkidul dari dampak Covid-19” di ruang pertemuan hotel Cyka Raya, Kamis (8/4) lalu. 

"Berdasarkan hasil kajian riset dan temuan di lapangan selama mendampingi komunitas perempuan pelaku usaha mikro-kecil di Kabupaten Gunungkidul, paling tidak ada tiga permasalahan utama yang harus menjadi perhatian semua pihak ke depannya; Pertama. Penguatan kapasitas produksi dan manajemen usaha, Kedua. Digitalisasi pemasaran produk, dan Ketiga. Penguatan jejaring antar komunitas.” lanjutnya.

Senin, 05 April 2021

YSKK: UMKM Butuh Bantuan Pemasaran Untuk Bangkit Dari Pandemi Covid-19


Indiekraf.com –
Bantuan dana oleh pemerintah ternyata masih belum mampu untuk membantu meningkatkan ekonomi para pelaku UMKM di Indonesia. Masih dibutuhkan bantuan lain agar mereka bisa tetap bertahan untuk menghadapi pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih belum terkendali dengan maksimal. Belum lagi adanya penyalahgunaan bantuan yang dikorupsi atau salah sasaran yang membuat keadaan semakin memburuk.

Selain memberikan bantuan dana, pemerintah telah berusaha untuk membantu UMKM dengan cara membuat sebuah pelatihan dan penyelamatan usaha. Namun sayangnya, masih banyak program yang dinilai masih belum tepat sasaran. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil riset yang telah dilakukan oleh Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) pada kelompok usaha kecil dampingan mereka di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

YSKK telah mendampingi lebih dari 300 perempuan pelaku usaha yang ada di Gunungkidul. Dalam hal ini, dampak pandemi terhadap UMKM yang digerakan oleh perempuan ternyata lebih terasa. Dikutip dari voaindonesia.com, Iwan Setiyoko selaku Direktur YSKK menjelaskan bahwa salah satu penyebabnya adalah permasalahan data. “Temuan kami di lapangan, permasalahan muncul karena data yang tidak sinkron, antara dari dinas dan data di lapangan, sehingga banyak dari teman-teman dampingan perempuan pelaku usaha tidak terdata di dinas terkait,” jelasnya.

Gerai Perempuan, Dorong Kebangkitan Ibu-ibu Penyintas

Dokumentasi Proyek SERP Pasigala, Sulteng (Maret-Oktober 2019)



TALISE,MERCUSUAR
- Dalam mendukung percepatan pemulihan di Pasigala (Palu, Sigi, dan Donggala), terutama dalam bidang ekonomi, Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) dengan dukungan pendanaan dari ChildFund International dan AKH Germany, telah melaksanakan program ‘Sulawesi Early Recovery Phase’ – Livelihood for Women (Young Women and Mothers) in Micro Enterprises’ selama 6 bulan (periode Maret-Agustus 2019).

Salah satu dukungan kepada para penyintas, khususnya ibu-ibu dengan didirikannya ‘Gerai Perempuan Bercerita’, dimana gerai ini menjadi salah satu pusat pemasaran produk-produk unggulan dari kelompok dampingan dan juga sebagai pusat pemberdayaan perempuan penyintas bencana Pasigala. Selain itu gerai tidak hanya sebagai pusat penjualan ibu-ibu penyintas korban bencana saja, tapi menjadi pusat pembelajaran bagi perempuan.

“Di gerai itu para perempuan bisa saling bercerita tentang pengalaman. Kapasitasnya kepada perempuan yang lain sehingga antara perempuan satu dan perempuan yang lain itu terjadi dengan take and kind saling memberi saling menerima dan saling berkembang barsama-sama,” kata Koordinator Proyek YSKK, Iwan Setiyoko, Rabu (18/9/2019).

Kamis, 01 April 2021

Kelompok Usaha Penyintas Binaan YSKK Rintis Kegiatan Usaha Perempuan Penyintas Bencana

Dokumentasi Proyek SERP Pasigala, Sulteng (Maret-Oktober 2019)

 


TRIBUNPALU.COM, PALU - Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) dengan pendanaan dari ChildFund International dan AKH Germany, merampungkan program bantuan untuk perempuan penyintas di Palu, Sigi, dan Donggala, di September 2019 ini.

Selasa (24/9/2019) siang, puluhan ibu rumah tangga di sekitaran hunian sementara Kelurahan Layana Indah, Kecamatan Mantikulore, menerima bantuan dana dan alat produksi.

Bantuan dana dan alat produksi itu, diberikan untuk membantu usaha mikro ibu-ibu penyintas guna memulihkan ekonomi masyarakat yang terdampak bencana di Kota Palu, Sigi, dan Donggala.

Kisaran nominal bantuan tersebut terdiri dari Rp2.750.000 per orang untuk penyintas yang tinggal di huntara, dan Rp2.250.000 per orang bagi yang sudah tinggal di rumah pribadi.