Tampilkan postingan dengan label Globalisasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Globalisasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Oktober 2018

Pemberdayaan Masyarakat Kunci Desa Mandiri


Mandiri didefinisikan sebagai keadaan dimana satu pihak dapat berdiri sendiri tanpa bergantung pada pihak-pihak lain. Namun, kemandirian (independence) juga dinyatakan sebagai prespektif yang sama sekali berbeda dengan saling ketergantungan (interdependence). Kondisi saling ketergantungan mensyaratkan kolaborasi dan sinergitas multi pihak. Arah dan ukuran keberhasilan pembangunan kini akan sangat ditentukan seberapa besar irisan sinergi dapat dilakukan oleh tiga pihak pelaku pembangunan (pemerintah, sektor usaha dan masyarakat sipil), dalam ruang kesetaraan dialog yang cukup luas bagi begitu kompleksnya permasalahan dan kondisi yang sesungguhnya kini dihadapi masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat di era globalisasi menghadapkan kita pada tantangan yang besar. Tantangan itu terlihat dalam ketidakstabilan ekologi, ekonomi, politik, sosial, dan kultural yang tampak nyata dalam pelanggaran HAM, degradasi lingkungan, eksploitasi ekonomi dan politik. Melihat tantangan yang kompleks ini, kebutuhan akan strategi pemberdayaan masyarakat (Desa) yang secara khusus diharapkan mampu:

  1. merespon kondisi dan permasalahan masyarakat desa yang sangat spesifik di masing-masing wilayah;
  2. membangun strategi pemberdayaan masyarakat yang mampu mendorong terwujudnya konsep desentralisasi pembangunan dan otonomi daerah dengan membangkitkan dan mempertautkan segenap potensi kemampuan para pihak pada tingkat lokal itu sendiri,
  3. membangun pemberdayaan yang memiliki perspektif jangka panjang dan tetap memegang teguh prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan.

Selasa, 08 November 2016

Mesin Pencari Asli Indonesia, Bermisi Sosial Karya Mahasiswa UI


Berbagai macam permasalahan muncul dalam kehidupan kita sehari-hari. Beberapa dari kita bisa mengatasinya namun beberapa orang lain kesulitas untuk menyelesaikan masalahnya. Alasan kesulitan tersebut bermacam-macam bisa karena kemampuan tetapi juga karena hal klasik seperti kekurangan dana. Namun ternyata persoalan menghimpun dana berusaha dipecahkan oleh seorang mahasiswa dari Universitas Indonesia (UI) lewat mesin pencari.

Pemuda itu bernama Azka Silmi yang telah mengamati bahwa kegiatan browsing atau melakukan pencarian adalah kegiatan yang sudah menjadi keseharian masyarakat utamanya masyarakat yang telah melek digital. Bahkan menurutnya itu telah menjadi gaya hidup.

"Kegiatan browsing sudah jadi keseharian. Bahkan bisa dibilang sudah jadi bagian dari gaya hidup. Terlebih di Indonesia sendiri," ujar Azka seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Minggu, 06 November 2016

Ponsel Mengandung Banyak Bakteri Lho!


PONSEL, seakan menjadi kebutuhan pokok saat ini. Hampir semua orang tak bisa melepas diri dari ponsel. Terlebih, saat terdapat berbagai macam ponsel canggih. Dimana, segala kebutuhan dapat didapat dengan mudah. Baik kebutuhan berupa informasi maupun hiburan. Meski begitu, di balik kecanggihan ponsel, ternyata hal lain yang cukup berbahaya. Apakah itu? Menurut penelitian, setiap satu inci persegi, perangkat mobile mengandung sekitar 25 ribu kuman.
 
Hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa perangkat mobile merupakan salah satu benda yang tidak higienis. Bahkan perangkat mobile dianggap lebih kotor dibandingkan dudukan toilet sekalipun. Sebagian orang menyadari bahwa ponsel yang digunakan merupakan salah satu sarang kuman, akan tetapi diperkirakan tidak sedikit pula yang belum mengetahui informasi ini.