Kamis, 03 Juni 2021

My Life My Adventure

 Refleksi berproses, belajar, dan berkarya bersama YSKK

 


“Ada dua cara untuk menebarkan cahaya terang; Jadilah nyala lilin atau cermin yang menerima sinarnya.” 

(Edith Watson)

 

Sepenggal Kisah 

Ibu Tina, nama panggilan Ibu Rostina, salah seorang disabilitas tuna daksa (kakinya mengecil, sehingga tidak bisa menopang tubuhnya) sejak kecil diakibatkan karena polio. Dia adalah salah satu perempuan pelaku usaha kecil yang juga penyintas bencana di Desa Tompe, Kecamatan Sirenja, wilayah Pantai Barat Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. 

Meskipun dalam kondisi terbatas, dia tetap berusaha bertahan mengelola warung kecilnya, karena dia adalah satu-satunya pencari nafkah yang menghidupi keponakan dan ibu tirinya (yang sudah lansia). Sebelum bencana dia memakai kursi roda dalam menjalankan aktivitas menjaga kios, tetapi setelah bencana dia harus dibantu oleh keponakannya, karena warungnya sempit dan modelnya telah diubah menjadi panggung. Hal ini sebagai akibat naiknya air laut ke daratan (rob) hingga masuk ke rumah-rumah warga, setiap sore sampai pagi hari. Sehingga, dia tidak bisa lagi untuk memakai kursi roda di warungnya.

Minggu, 23 Mei 2021

Berawal Dari Mimpi, Bu Ning Buat Aneka Jamu, Banyak Orang Jadi Sehat Dan Sembuh


WartaKita.org
– Jangan pernah menyepelekan mimpi. Karena mimpi bisa menjadi “petunjuk hidup” bagi Anda dalam meraih kesuksesan.

Setidaknya, hal ini juga dialami oleh Christiana Triningsih, warga Dukuh Tancep RT 01 RW 06 Nomor 43, Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Kaupaten Gunungkidul.

Karena mimpinya, perempuan yang akrab disapa Bu Ning ini sekarang sukses membuat aneka jamu dari bahan herbal yang diberi nama Jamuning, atau singkatan dari Jamune Bu Ning.

Saat ditemui Wartakita.org di rumahnya pada Sabtu (9/1/2021) pagi, Ning menceritakan, pada Jumat malam di bulan Januari tahun 1997, dia bermimpi ditemui orangtua berjenggot panjang di sebuah lembah, yang di sekitarnya terdapat sebuah villa. Orangtua itu membawa tanaman kunyit dan benalu.

Selasa, 04 Mei 2021

Peserta Program Organisasi Penggerak Siap Jalankan Pendidikan di Daerah


JAKARTA – Sejumlah peserta Program Organisasi Penggerak (POP) siap menjalankan praktik baik pendidikan di berbagai daerah seluruh Indonesia mulai tahun ini. Hal ini dilakukan setelah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelesaikan evaluasi dan kelengkapan administrasi program tersebut.

Direktur Pelaksana Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) Iwan Setiyoko menjelaskan POP merupakan salah satu langkah efektif meningkatkan kualitas pendidikan dengan membawa unsur kegotongroyongan antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. Iwan adalah salah satu peserta POP yang fokus mengembangkan pendidikan dasar dan usia dini.

“Program ini bagus untuk mengkristalisasi upaya yang dilakukan lembaga pegiat pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Program ini juga mampu mengkompilasi, meramu, serta mereplikasi berbagai capaian positif yang dilakukan sesuai kebutuhan dan sumber daya masing-masing daerah,” kata Iwan, Selasa, 9 Maret 2021.

Senin, 12 April 2021

SDGs Desa Sebagai Jawaban Atas Berbagai Persoalan yang Dihadapi oleh Desa


CERITAWARGA
.com, JAKARTA
 | Komitmen terhadap implementasi pembangunan berkelanjutan desa (Sustainable Development Goals/SDGs Desa) menjadi tantangan bukan hanya bagi pemerintah, tetapi juga seluruh pihak yang peduli dengan desa.

“Keberhasilan SDGs tidak dapat dilepaskan dari peranan penting sinergisitas pemerintah, masyarakat, hingga swasta (perusahaan),” kata Ketua Umum Sahabat Desa Nusantar (SDN), Ahmad Yani Budi Santoso yang dikutip media ini dari situs resmi sahabatdesanusantara.com, pada Kamis (11/2/2021).

Sebelumnya, hal itu disampaikan Ahmad Yani Budi Santoso dalam Bincang Sore ‘Karsa Desa’ perdana yang diselenggarakan secara virtual oleh Sahabat Desa Nusantara (SDN) bekerjasama dengan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) pada Jumat 5 Februari 202 lalu.

UMKM Naik Kelas, Perlu Sinergi Multipihak


“Perlu sinergi gerakan multipihak dalam mendukung UMKM untuk bangkit dan naik kelas pasca pandemi Covid-19.
Karena saat ini masing-masing pihak di Kabupaten Gunungkidul, baik pemerintah melalui dinas terkait, swasta melalui program CSR-nya, NGO/LSM, maupun jejaring UMKM lainnya (IWAPI, ASPEMAKO) masih terkesan berjalan sendiri-sendiri, sehingga kurang optimal kerjan-kerja pendampingannya.” ujar Iwan Setiyoko, Direktur YSKK dalam kegiatan Forum Sinergi Multipihak dengan tema “Upaya pemulihan ekonomi – UMKM di Kabupaten Gunungkidul dari dampak Covid-19” di ruang pertemuan hotel Cyka Raya, Kamis (8/4) lalu. 

"Berdasarkan hasil kajian riset dan temuan di lapangan selama mendampingi komunitas perempuan pelaku usaha mikro-kecil di Kabupaten Gunungkidul, paling tidak ada tiga permasalahan utama yang harus menjadi perhatian semua pihak ke depannya; Pertama. Penguatan kapasitas produksi dan manajemen usaha, Kedua. Digitalisasi pemasaran produk, dan Ketiga. Penguatan jejaring antar komunitas.” lanjutnya.

Senin, 05 April 2021

YSKK: UMKM Butuh Bantuan Pemasaran Untuk Bangkit Dari Pandemi Covid-19


Indiekraf.com –
Bantuan dana oleh pemerintah ternyata masih belum mampu untuk membantu meningkatkan ekonomi para pelaku UMKM di Indonesia. Masih dibutuhkan bantuan lain agar mereka bisa tetap bertahan untuk menghadapi pandemi Covid-19 yang hingga saat ini masih belum terkendali dengan maksimal. Belum lagi adanya penyalahgunaan bantuan yang dikorupsi atau salah sasaran yang membuat keadaan semakin memburuk.

Selain memberikan bantuan dana, pemerintah telah berusaha untuk membantu UMKM dengan cara membuat sebuah pelatihan dan penyelamatan usaha. Namun sayangnya, masih banyak program yang dinilai masih belum tepat sasaran. Hal tersebut dibuktikan dengan hasil riset yang telah dilakukan oleh Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) pada kelompok usaha kecil dampingan mereka di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta.

YSKK telah mendampingi lebih dari 300 perempuan pelaku usaha yang ada di Gunungkidul. Dalam hal ini, dampak pandemi terhadap UMKM yang digerakan oleh perempuan ternyata lebih terasa. Dikutip dari voaindonesia.com, Iwan Setiyoko selaku Direktur YSKK menjelaskan bahwa salah satu penyebabnya adalah permasalahan data. “Temuan kami di lapangan, permasalahan muncul karena data yang tidak sinkron, antara dari dinas dan data di lapangan, sehingga banyak dari teman-teman dampingan perempuan pelaku usaha tidak terdata di dinas terkait,” jelasnya.

Gerai Perempuan, Dorong Kebangkitan Ibu-ibu Penyintas

Dokumentasi Proyek SERP Pasigala, Sulteng (Maret-Oktober 2019)



TALISE,MERCUSUAR
- Dalam mendukung percepatan pemulihan di Pasigala (Palu, Sigi, dan Donggala), terutama dalam bidang ekonomi, Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) dengan dukungan pendanaan dari ChildFund International dan AKH Germany, telah melaksanakan program ‘Sulawesi Early Recovery Phase’ – Livelihood for Women (Young Women and Mothers) in Micro Enterprises’ selama 6 bulan (periode Maret-Agustus 2019).

Salah satu dukungan kepada para penyintas, khususnya ibu-ibu dengan didirikannya ‘Gerai Perempuan Bercerita’, dimana gerai ini menjadi salah satu pusat pemasaran produk-produk unggulan dari kelompok dampingan dan juga sebagai pusat pemberdayaan perempuan penyintas bencana Pasigala. Selain itu gerai tidak hanya sebagai pusat penjualan ibu-ibu penyintas korban bencana saja, tapi menjadi pusat pembelajaran bagi perempuan.

“Di gerai itu para perempuan bisa saling bercerita tentang pengalaman. Kapasitasnya kepada perempuan yang lain sehingga antara perempuan satu dan perempuan yang lain itu terjadi dengan take and kind saling memberi saling menerima dan saling berkembang barsama-sama,” kata Koordinator Proyek YSKK, Iwan Setiyoko, Rabu (18/9/2019).