Minggu, 09 Oktober 2016

Lagu "Nasi Padang", Persembahan Pria Norwegia Ini untuk Indonesia

 
"And if you're a human, I would make you my wife..." ~ Audun Kvitland Rostad (Norwegia)

KOMPAS.com — Seorang pria Norwegia menciptakan sebuah lagu bertajuk "Nasi Padang".
Pria bernama Audun Kvitland Rostad itu mengunggah lagu tersebut di YouTube pada Selasa (4/10/2016).

Kabar tentang Kvitland, bule asal Norwegia yang bikin lagu berjudul “Nasi Padang”, makin viral di media sosial. Sebagai warga Indonesia, tentunya hal ini jadi satu kebanggaan tersendiri. Soalnya, makanan legendaris asal Sumatera Barat ini bakal lebih dikenal masyarakat Dunia.

Jauh sebelum populernya lagu “Nasi Padang”, Rendang (ikon masakan Padang) sudah lebih dulu dianggap sebagai salah satu makanan terenak di Dunia. Di Indonesia, lo bisa menemukan banyak rumah makan Padang yang tersebar di seluruh penjuru daerah. Di luar negeri sendiri masakan Padang juga sudah dikenal. Sayangnya, enggak gampang buat menemukan rumah makan Padang di luar negeri. Banyak bule yang suka main ke Indonesia hanya untuk menikmati kuliner Indonesia. Salah satunya ya masakan Padang. Menurut Kvitland, rasa masakan Padang yang khas bikin dia enggak bisa melupakan makanan tersebut.

Indonesia Ditargetkan Jadi Kiblat Wisata Halal Dunia pada 2019

 
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bukan hal mustahil bagi Indonesia menjadi 'kiblat' untuk wisata halal dunia pada 2019. Hal ini karena Indonesia sudah memiliki syarat '3S'.

"Tekad Indonesia besar untuk menjadi destinasi wisata halal nomor satu dunia," ujar Menteri Pariwisata Republik Indonesia Arief Yahya dalam acara Malam Anugerah Pariwisata Halal Terbaik 2016 di Kementerian Pariwisata RI, beberapa waktu lalu. Indonesia akan menjadi kiblat pariwisata halal dunia pada 2019 mendatang.

Arief menjelaskan, halal tourism menjadi fokus Indonesia karena memiliki syarat 3S, yakni size, sustainable, dan spread. Pasar pariwisata halal di dunia sangat besar. Kurang lebih terdapat 6,8 miliar penduduk dunia, 1,6 miliar di antaranya merupakan umat muslim. Sebanyak 60 persen penduduk muslim dunia merupakan orang dewasa berusia di bawah 30 tahun.

Rabu, 05 Oktober 2016

Inovasi Fashion Ramah Lingkungan ala Merdi Sihombing

Liputan6.com, Jakarta Melalui peluncuran koleksi terbarunya di Grand Indonesia pada 26 Agustus 2016, Merdi Sihombing ikut terlibat dalam mendukung program pembangunan inklusif dan ramah lingkungan. Untuk pertama kalinya perancang busana Indonesia secara tunggal menciptakan koleksi fashion yang ramah lingkungan menurut standar tekstil internasional.
 
Dalam koleksi terbarunya kali ini, semua busana yang dibuat diproses dengan menggunakan cara-cara yang berkelanjutan, zat warna alami, bubuk pewarna ramah lingkungan, ekstrak cairan, dan serat organik.

Berkolaborasi dengan para penenun perempuan yang berasal dari 9 provinsi di Indonesia Merdi Sihombing menciptakan koleksi busana tenun yang berasal dari berbagai daerah etnik di Indonesia, seperti Samosir, Lombok, Sintang, Padang dan masih banyak lagi.

Selasa, 04 Oktober 2016

Ekonomi Kreatif Desa

Ekonomi kreatif adalah ekonomi masa depan yang bertumpu pada daya kreasi manusia. Ekonomi kreatif pada hakikatnya adalah kegiatan ekonomi yang mengutamakan pada kreativitas berpikir 'thinking new things', yaitu berpikir sesuatu yang baru. Manifestasinya sangat banyak, seperti berpikir tentang cara baru, model baru, desain baru, pemasaran baru, usaha baru, distribusi baru, strategi baru, dan lain sebagainya.

Menurut data Departemen Perdagangan dan Perindustrian ekonomi kreatif menyumbang sekitar 11,75% dari PDB Indonesia pada tahun 2013. Sektor ini banyak disumbang oleh UKM sekitar 22,8%. Padahal jumlah Usaha Kecil Menengah (UKM) di Indonesia hingga 2011 mencapai sekitar 52 juta dengan sumbangan 60% dari Produk Domestik Bruto (PDB) dan menampung 97% tenaga kerja. Artinya masih ada UKM yang belum masuk ke Industri kreatif sekitar 80% an lagi.

Kamis, 29 September 2016

Perempuan Berdaya, Keluarga dan Masyarakat Sejahtera


“Kelompok Perempuan Usaha Kecil (KPUK) Pantura Mekar Jaya Desa Kalipang, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang harus solid dan mandiri agar mampu membawa perubahan di masyarakat,” tegas Ibu Budi Dayanti, KaBid. PKHPP BP3AKB Provinsi Jawa Tengah. Motivasi tersebut disampaikan pada sambutan di awal kegiatan Supervisi dan Pendampingan Program Pendidikan Kemasyarakatan Berperspektif Gender (PKBG), Rabu (21/09) lalu.
 
Program PKBG merupakan sebuah program pendidikan kritis untuk perempuan kerjasama antara Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASPPUK) wilayah Jawa. Program ini sudah dilaksanakan di 9 kabupaten, dan rencananya akan dikembangkan di seluruh kab./kota di wilayah Jawa Tengah.

Inginkah UMKM dan Koperasi Kuat?

Awal Agustus lalu di Jakarta dihelat konferensi internasional Forum Ekonomi Islam Dunia (WIEF) ke-12 bertema “Desentralisasi Pertumbuhan, Memberdayakan Bisnis Masa Depan?” Tidak kurang, dari Presiden Joko Widodo dan belasan kepala negara hadir dalam pembukaannya.

Ketika ribuan tokoh berbagai penjuru dunia berkumpul, kita pun bertanya: adakah hasilnya berpengaruh pada dunia yang makin didera kesenjangan ekonomi yang melebar? Tun Musa Hitam, ketua penyelenggara, menyampaikan dalam pidato penutup, WIEF tidak bermaksud mengumpulkan tokoh-tokoh “elite” untuk berbicara isu ekonomi sebagai isu yang “elite.”

WIEF menyadari sebagian besar Muslim ataupun yang bukan, di seluruh dunia, adalah mereka yang ada di bottom of the pyramid, yaitu pengusaha dan skala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Karenanya, diskusi WIEF haruslah kaya masukan “dari bawah” yang membahas pengembangan UMKM.

Di Indonesia, jumlah usaha mikro mencapai 98,8 persen dari seluruh unit usaha dan usaha kecil satu persen. Bila digabung, usaha mikro dan kecil 99,8 persen dari seluruh entitas usaha di Indonesia. Adapun usaha berskala menengah hanya 0,1 persen dan usaha besar 0,01 persen.

Sinergitas JARPUK dengan SKPD Tingkat Kabupaten Program Peningkatan Produktivitas Ekonomi Perempuan (PPEP)

Pembangunan yang responsif gender dihadirkan sebagai perspektif dalam pemberdayaan perempuan dan ekonomi, khususnya di pedesaan. Perspektif  gender menjadi penting bagi perempuan dalam melakukan pengembangan ekonomi. Tanpa pemahaman gender yang baik, pengembangan ekonomi bagi perempuan kemungkinan tidak akan berdampak pada proses pemberdayaan,tetapi sebaliknya hanya akan mengeksploitasi diri perempuan. Permasalahan perempuan di bidang ekonomi tidak terlepas dari kemiskinan.

Selama ini, upaya-upaya yang dilakukan pemerintah baru sebatas meningkatkan ketrampilan, pemberian modal, akses pasar tetapi persoalan lain belum tersentuh, persoalan lain yang dihadapi perempuan disektor ekonomi mikro adalah model pendekatan program pengentasan kemiskinan lebih banyak terpaku pada forum-forum formal, pengelolaan program belum mengintegrasikan pendidikan, kesehatan, politik dan ekonomi. Masing-masing SKPD berjalan sendiri-sendiri, tidak ada sinergisitas dengan SKPD/stakeholder lokal ditingkat desa/kecamatan, kabupaten maupun provinsi. Jaringan Perempuan Pelaku Usaha Kecil (Jarpuk) di beberapa Kabupaten yang telah dibentuk BP3AKB Provinsi Jawa Tengah bersama Asppuk Wilayah Jawa  selama ini kurang berkembang secara maksimal karena kurangnya dukungan SKPD terkait di tingkat Kabupaten dalam hal penganggaran yang responsif gender untuk mendukung program PPEP secara umum dan program Jarpuk secara khusus.