Jumat, 17 April 2020

Mari Berbagi untuk Saling Menjaga


Di tengah pandemi Covid-19, para perempuan ini masih harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Ironisnya, sebagian dari mereka tidak dibekali dengan perlindungan diri yang memadai untuk mencegah penyebaran Covid-19. YSKK melakukan penggalangan dana untuk menjaga mereka agar kita semua juga terjaga dari Covid-19.

YSKK mengajak anda untuk berdonasi dalam penyediaan masker kain dan sabun cuci tangan, yang akan didistribusikan kepada perempuan pengusaha mikro di Gunungkidul, Sragen, dan Sukoharjo.

Donasi anda dapat disalurkan melalui:
BNI 0576277477 a.n Satu Karsa Karya

Setelah transfer harap konfirmasi ke nomor berikut: 085325255626 (Syaiful)

Mari berbagi untuk saling menjaga. 
Bersama #melawancorona dengan tetap #dirumahaja.

#yskkberkarya
#melawancorona
#dirumahaja
#socialdistancing
#socialdistance
#physicaldistancing

Kamis, 02 April 2020

Manfaat Kunyit dan Temulawak Terhadap Penanganan COVID-19


BANDUNG, itb.ac.id Indonesia merupakan negara dengan sumber daya alam yang begitu melimpah. Contoh pemanfaatan dari kekayaan alam tersebut adalah penggunaan tanaman herbal untuk tujuan kesehatan secara turun temurun. Saat ini, tanaman herbal banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai salah satu cara untuk membantu pencegahan virus corona atau COVID-19. Tanaman herbal yang umum dikonsumsi oleh masyarakat adalah kunyit dan temulawak.

Prof. Daryono Hadi Tjahjono, Dekan Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung menjelaskan bahwa kunyit (Curcuma longa L) mengandung senyawa metabolit bahan alam berupa kurkumin yang dilaporkan memiliki potensi terapeutik yang beragam seperti antibiotik, antiviral, antioksidan, antikanker, dan untuk penanganan penyakit alzheimer. “Kurkumin (atau turunannya, yaitu kurkuminoid) juga terdapat pada temulawak, jahe, dan tanaman sejenis. Selain senyawa kurkuminoid, terdapat puluhan senyawa kimia lain yang terkandung di dalam tanaman tersebut. Masyarakat secara umum memanfaatkan tanaman tersebut dalam kehidupan sehari – hari dan aman dalam penggunaannya. Selain sebagai bumbu masak, tanaman tersebut juga menjadi bahan baku jamu, dan obat herbal terstandarkan,” tulis Prof. Daryono dalam artikelnya yang diterima Humas ITB.

Ini Dia Cara Membuat Hand Sanitizer Sederhana untuk Cegah Virus Corona


Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menjelaskan salah satu cara pencegahan penyebaran virus Corona adalah dengan membersihkan tangan secara teratur memakai cairan antiseptik pembersih tangan  (hand sanitizer) yang mengandung alkohol atau mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.  Namun setelah Presiden Joko Widodo mengabarkan  teridentifikasinya dua Warga Negara Indonesia yang terpapar virus Corona pada 2 Maret lalu, masyarakat kemudian memborong hand sanitizer. Hal ini menyebabkan harga cairan antiseptik ini meroket, dan stoknya habis di pasaran.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia melalui Pusat Penelitian Kimia membagikan langkah-langkah pembuatan hand sanitizer sederhana. “Ketika hand sanitizer menjadi semakin langka, masyarakat bisa membuatnya sendiri karena bahan-bahannya tersedia di toko-toko kimia. Jadi masyarakat tidak perlu panik dan khawatir,” ujar Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, Agus Haryono di Serpong, Tangerang Selatan, Banten pada Selasa (10/3). Dirinya mengingatkan pembatan hand sanitizer  tetap dalam pengawasan orang dewasa dan dijauhkan dari jangkauan anak-anak.

Kamis, 26 Maret 2020

#DesaLawanCorona


Saatnya desa ambil peran dalam gerakan #BersamaLawanCorona #COVID19Indonesia. Optimalkan berbagai sumberdaya yang ada di desa untuk mendukung gerakan ini.

Mungkin muncul pertanyaan dari PemDes, "Terus apa yang bisa kami lakukan?"

Nih ada beberapa ALTERNATIF UPAYA yang bisa dilakukan!

  1. Bentuk Tim Reaksi Cepat (TRC) Siaga Covid -19 tingkat Desa
  2.  Bentuk WA Grup “Kabar Warga” ditingkat RT yang didalamnya ada anggota TRC Siaga Covid-19. 
  3. Sosialisasikan Perilaku Hidup Bersih Sehat dan Cuci Tangan Pakai Sabun melalui; (a) WA Grup, (b) Door to Door, (c) Pengeras suara Masjid, (d) Panflet/selebaran. 
  4. Sosialisasikan Cara Pencegahan Penularan Virus Covid-19 melalui; (a) WA Grup, (b) Door to Door, (c) Pengeras suara Masjid, (d) Panflet/selebaran. 
  5. Sosialisasikan Disinfeksi secara Mandiri melalui; (a) WA Grup, (b) Door to Door, (c) Pengeras suara Masjid, (d) Panflet/selebaran. 
  6. Fungsikan Siskamling Warga 
  7. Fungsikan Lumbung Pangan Warga dengan jimpitan beras/bahan makanan pokok lainnya. 
  8. Fungsikan peran Karang Taruna sebagai Relawan 
  9. Bangun sistem keamanan dan informasi warga yang efektif.

Rabu, 26 Februari 2020

Peran Perempuan dalam Mengurangi KDRT dan Kekerasan Terhadap Kaumnya


Sejak tahun 2010, YSKK bersama kader perempuan di Kabupaten Gunungkidul telah menginisiasi TIFA (Tim Informasi dan Advokasi) dan TAPA (Tim Advokasi Perempuan dan Anak) di 8 desa yang tersebar di 5 wilayah, yaitu: Kec. Karangmojo (Desa Ngawis dan Karangmojo), Kec. Ngawen (Desa Sambirejo dan Watusigar), Kec. Semin (Desa Semin dan Kalitekuk), Kec. Nglipar (Desa Natah), dan  Kec. Tanjungsari (Desa Kemiri). Inisiasi ini sebagai jawaban atas tingginya kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) di Kabupaten Gunungkidul, utamanya di desa-desa dampingan YSKK tersebut.

Sampai saat ini (tahun 2020), berdasarkan hasil monitoring yang dilakukan oleh YSKK bersama Kedutaan Jepang (selaku donor program) pada tanggal 4-5 Februari 2020 lalu, dapat diindikasikan bahwa TIFA-TAPA tersebut mayoritas masih aktif. Salah satunya adalah TIFA di Desa Ngawis, Kec. Karangmojo yang menjadi salah satu kelompok yang mampu bertahan dalam memberikan layanan dan pendampingan kepada perempuan yang menjadi korban. Bahkan, TIFA Desa Ngawis juga dijadikan salah satu rujukan oleh instansi terkait (khususnya DP3AKBPMD Kab. Gunungkidul).

Selasa, 25 Februari 2020

Abdi Medsos


Masa depan media sosial (medsos) dengan segala efeknya belum jelas arahnya. Medsos telah terlalu kuat mengatur di berbagai sendi kehidupan kita. Tak sedikit pejabat lebih dekat jadi abdi medsos ketimbang abdi negara.


Beberapa tahun yang lalu banyak kalangan menyarankan agar pemerintah menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dengan publik. Kini, harapan itu mulai menampakkan hasil, sejumlah pejabat lebih responsif. Namun belakangan ada efek samping, tekanan-tekanan di medsos membuat pengambil kebijakan gamang dan cenderung merespons isu-isu di media yang belum tentu penting dibandingkan berfokus menangani masalah aktual. Satu dekade penggunaan media sosial di dunia kepemerintahan. Kini kritik mulai bermunculan.

Rentetannya menjadi panjang ketika media sosial (medsos) digunakan dalam politik dan kepemerintahan. Tak sedikit pejabat yang kemudian memilih sibuk di medsos karena, toh, atasannya juga sibuk di media ini. Mereka lebih tekun memantau medsos dan merencanakan aksi di dunia maya dibandingkan bekerja menangani masalah riil.

Siapa lagi yang peduli dengan panen padi dan stok pangan? Siapa pula peduli dengan masalah tuberkulosis? Siapa peduli dengan nasib bahasa daerah yang beberapa di antaranya nyaris punah?

Menurunkan Kasus Perselingkuhan dan KDRT dengan Adanya TIFA/TAPA/PPTPA


Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) bersama dengan kedutaan jepang melakukan kunjungan untuk monitoring program yang telah berjalan di 8 Desa di Gunungkidul. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Selasa-Rabu (4-5 Februari 2020). Delapan Desa yang dikunjungi antara lain Desa Karangmojo, Desa Semin, Desa Watusigar, Desa Natah, Desa Ngawis, Desa Kalitekuk, Desa Sambirejo dan Desa Kemiri.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memonitoring dampak dari proyek penguatan peran perempuan dalam politik pembangunan desa yang telah dilaksanakan pada 2015-2016. Hasil dari program ini adalah terbentuknya TIFA/TAPA/PPTA. TIFA (Tim Informasi dan Advokasi), TAPA (Tim Advokasi Perempuan dan Anak) dan PPTPA (Pos Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak) bertugas untuk melakukan pendampingan dan sosialisasi tentang permasalahan terkait pemberdayaan perempuan dan anak.