Rabu, 12 Januari 2022

EARLY INTERVENTION

PAUD Ramah Anak - PAUD Inklusi

 
 
"Jangan beri tahu mereka (anak usia dini) cara melakukannya. Tunjukkan pada mereka bagaimana melakukannya dan jangan mengucapkan sepatah kata pun. Jika Anda memberi tahu mereka, mereka akan melihat bibir Anda bergerak. Jika Anda menunjukkan kepada mereka, mereka akan ingin melakukannya sendiri." ~Maria Montessori

Pengalaman menarik saat berkesempatan memfasilitasi "Coaching to strengthening selected LPOs on Piloting - Early Intervention Program" NLR Indonesia, pada 15-16 Desember 2021 lalu di Yogyakarta.

Pasalnya, cukup banyak teridentifikasi praktik-praktik baik dari 2 (dua) lembaga pengelola PAUD inklusi dampingan NLR Indonesia, YPCM (Boyolali, Jateng) dan YSIA (Kefamenanu, NTT) yang bisa menjadi role model dalam pengembangan dan pengelolaan PAUD inklusi di Indonesia.

Minggu, 31 Oktober 2021

Keren! Sukoharjo Jadi Percontohan Nasional PAUD Ramah Anak


Solopos.com, SUKOHARJO
— Sebanyak 264 lembaga Pendidikan Anak Usia Dini atau PAUD di Sukoharjo disasar mendapatkan pendampingan oleh Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) untuk mewujudkan PAUD ramah anak. Melalui program tersebut, Kabupaten Jamu menjadi pilot project atau percontohan PAUD ramah anak secara nasional.

Direktur YSKK, Iwan Setyoko, mengatakan YSKK merupakan satu dari 156 ormas yang lolos sebagai mitra pelaksana program organisasi penggerak (POP) Ditjen Kemendikbudristek. YSKK sendiri melalui POP memfokuskan pada pendampingan 264 lembaga PAUD, 756 pendidik, dan 264 pengelola atau kepala PAUD untuk membentuk PAUD ramah anak. 

“Program ini kan bekerja sama dengan pemerintah pusat. Kami menjadi salah satu yang lolos POP dan fokus kami ke mewujudkan PAUD ramah anak. Nah program tersebut resmi dimulai hari ini [Rabu, 27/10/2021]. Kami saat ini sedang menjalankan kajian atau penelitian tentang PAUD di Sukoharjo. Untuk program awal ini kami jalankan dalam waktu empat bulan,” ujarnya kepada Solopos.Com, Rabu (27/10/2021).

YSKK Inisiasi PAUD Ramah Anak di Sukoharjo


REPUBLIKA.CO.ID, SOLO -- Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) menginisiasi PAUD Ramah Anak di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, dengan sasaran 264 lembaga PAUD. Langkah tersebut merupakan implementasi Program Organisasi Penggerak (POP) yang akan dilaksanakan pada 2021-2023 ini.

YSKK menjadi salah satu dari 156 organisasi kemasyarakatan (ormas) yang lolos sebagai mitra pelaksana dalam POP Ditjen Kemendikbud Ristek.

POP merupakan salah satu bentuk kemitraan dan kegotongroyongan antara pemerintah dan ormas penggerak pendidikan untuk menemukan inovasi-inovasi yang bisa dipelajari lalu diterapkan dalam skala nasional. Program ini memiliki misi mencari jurus dan pola terbaik dalam memajukan pendidikan Indonesia.

Direktur Yayasan Satu Karsa Karya, Iwan Setiyoko mengatakan, program PAUD Ramah Anak di Kabupaten Sukoharjo sejalan dengan program Kabupaten Layak Anak (KLA) pada Pemenuhan Hak Anak (PHA), khususnya di klaster ke-4, yakni, Pendidikan, Pemanfaatan Waktu Luang dan Kegiatan Budaya.

Selasa, 21 September 2021

Rahmat Adinata dan Mimpi Jadikan Sumba Pulau Organik

 


  • Rahmat Adinata asli dari Jawa Barat. Pada tahun 2012 ia datang ke Sumba, karena saat itu ada rawan pangan yang melanda Pulau Sumba akibat El Nino.
  • Pertanian organik jadi pilihan perkembangan karena tanah, air dan udara di Pulau Sumba belum banyak terkontaminasi polusi dan bahan kimia sintesis
  • Untuk merubah pola pikir petani, Rahmat mendirikan sekolah lapang organik bagi kelompok-kelompok tani di Sumba Timur dan Sumba Barat Daya
  • Lewat pertanian organik petani dapat menanam padi, hortikultura, dan pangan lokal dengan lebih baik. Hasilnya, terdapat peningkatan pendapatan petani hingga 30%.

***

Pulau Sumba dikenal sebagai pulau karang, yang identik dengan perbukitan dan padang savana. Banyak orang yang lebih mengenal Sumba dengan kuda sandalwood dan hasil ternaknya. Meski demikian, pertanian organik mulai menggeliat di tanah Marapu ini.

Salah seorang pelopor pertanian organik di Sumba adalah Rahmat Adinata, atau yang populer dipanggil Rahmat Organik. Sosok berusia 55 tahun ini amat terkenal di kalangan petani di Sumba. Banyak sudah kelompok tani di Kabupaten Sumba Timur dan Sumba Barat Daya yang telah ia dampingi dan pada akhirnya berhasil.

Kamis, 03 Juni 2021

My Life My Adventure

 Refleksi berproses, belajar, dan berkarya bersama YSKK

 


“Ada dua cara untuk menebarkan cahaya terang; Jadilah nyala lilin atau cermin yang menerima sinarnya.” 

(Edith Watson)

 

Sepenggal Kisah 

Ibu Tina, nama panggilan Ibu Rostina, salah seorang disabilitas tuna daksa (kakinya mengecil, sehingga tidak bisa menopang tubuhnya) sejak kecil diakibatkan karena polio. Dia adalah salah satu perempuan pelaku usaha kecil yang juga penyintas bencana di Desa Tompe, Kecamatan Sirenja, wilayah Pantai Barat Kabupaten Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah. 

Meskipun dalam kondisi terbatas, dia tetap berusaha bertahan mengelola warung kecilnya, karena dia adalah satu-satunya pencari nafkah yang menghidupi keponakan dan ibu tirinya (yang sudah lansia). Sebelum bencana dia memakai kursi roda dalam menjalankan aktivitas menjaga kios, tetapi setelah bencana dia harus dibantu oleh keponakannya, karena warungnya sempit dan modelnya telah diubah menjadi panggung. Hal ini sebagai akibat naiknya air laut ke daratan (rob) hingga masuk ke rumah-rumah warga, setiap sore sampai pagi hari. Sehingga, dia tidak bisa lagi untuk memakai kursi roda di warungnya.

Minggu, 23 Mei 2021

Berawal Dari Mimpi, Bu Ning Buat Aneka Jamu, Banyak Orang Jadi Sehat Dan Sembuh


WartaKita.org
– Jangan pernah menyepelekan mimpi. Karena mimpi bisa menjadi “petunjuk hidup” bagi Anda dalam meraih kesuksesan.

Setidaknya, hal ini juga dialami oleh Christiana Triningsih, warga Dukuh Tancep RT 01 RW 06 Nomor 43, Desa Tancep, Kecamatan Ngawen, Kaupaten Gunungkidul.

Karena mimpinya, perempuan yang akrab disapa Bu Ning ini sekarang sukses membuat aneka jamu dari bahan herbal yang diberi nama Jamuning, atau singkatan dari Jamune Bu Ning.

Saat ditemui Wartakita.org di rumahnya pada Sabtu (9/1/2021) pagi, Ning menceritakan, pada Jumat malam di bulan Januari tahun 1997, dia bermimpi ditemui orangtua berjenggot panjang di sebuah lembah, yang di sekitarnya terdapat sebuah villa. Orangtua itu membawa tanaman kunyit dan benalu.

Selasa, 04 Mei 2021

Peserta Program Organisasi Penggerak Siap Jalankan Pendidikan di Daerah


JAKARTA – Sejumlah peserta Program Organisasi Penggerak (POP) siap menjalankan praktik baik pendidikan di berbagai daerah seluruh Indonesia mulai tahun ini. Hal ini dilakukan setelah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelesaikan evaluasi dan kelengkapan administrasi program tersebut.

Direktur Pelaksana Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) Iwan Setiyoko menjelaskan POP merupakan salah satu langkah efektif meningkatkan kualitas pendidikan dengan membawa unsur kegotongroyongan antara pemerintah dan organisasi kemasyarakatan. Iwan adalah salah satu peserta POP yang fokus mengembangkan pendidikan dasar dan usia dini.

“Program ini bagus untuk mengkristalisasi upaya yang dilakukan lembaga pegiat pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Program ini juga mampu mengkompilasi, meramu, serta mereplikasi berbagai capaian positif yang dilakukan sesuai kebutuhan dan sumber daya masing-masing daerah,” kata Iwan, Selasa, 9 Maret 2021.