Sabtu, 13 Juli 2019

Kelompok Perempuan Pengusaha Mikro Penyintas Bencana di PASIGALA


Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) bekerjasama dengan lembaga TRUE dan LPBI-NU dan mendapatkan dukungan pendanaan dari ChildFund Alliance dan AKH Germany menginisiasi Pembentukan Kelompok Perempuan Pengusaha Mikro Penyintas Bencana di 9 desa, 8 kecamatan, di wilayah Pasigala (Palu, Sigi, Donggala) melalui program Sulawesi Early Recovery Phase (SERP).

Program yang dilaksanakan sejak bulan Maret 2019 ini bertujuan untuk mengembalikan mata pencaharian 556 perempuan korban bencana, yang tergabung dalam 20 kelompok perempuan pengusaha mikro. Selain penguatan terhadap usaha yang dilakukan oleh masing-masing perempuan pelaku usaha mikro, program ini juga memperkuat kelompok perempuan pengusaha mikro tersebut, agar ke depannya bisa menjadi Koperasi Wanita (KopWan).

Menurut Pegiat YSKK, Iwan Setiyoko, kelompok menjadi sebuah strategi pendampingan yang efektif untuk keberlanjutan sebuah program pemberdayaan ke depannya.

Koordinasi Multistakeholder (2)



Untuk memastikan proses 'sharing knowledge' dari berbagai lembaga (NGO nasional/internasional/lokal, ormas, dll) yang sedang dan akan berprogram dalam recovery Pasigala, maka koordinasi secara berkala mutlak diperlukan.

Sehingga, implementasi dan penyebaran bantuan/program bisa menyasar kepada seluruh masyarakat yang terdampak bencana, tanpa terkecuali. Hal ini dapat meminimalisir penumpukan bantuan/program hanya di beberapa titik saja, terutama di wilayah-wilayah yang 'media darling'.

Proses seperti inilah yang akan menjadi sebuah pembelajaran bersama, baik bagi setiap lembaga yang sedang berprogram maupun bagi pemerintah setempat, mulai dari level desa, kecamatan, kabupaten/kota, provinsi, bahkan hingga ke pusat, dan tak ketinggalan adalah masyarakat sebagai sasaran langsungnya. Pembelajaran berharga akan menjadi bekal penting dalam proses tanggap bencana & recovery berikutnya, di manapun/kapanpun, meskipun kita tidak pernah berharap hal itu akan terjadinya.

Jumat, 12 Juli 2019

Yuk, kembangkan bisnis dengan HerVenture!



Saat ini Sekretariat Nasional Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (SekNas ASPPUK) dan Cherie Blair Foundation menginisiasi aplikasi belajar bisnis digital HerVenture untuk mendukung pengembangan bisnis, khususnya bisnis yang dijalankan oleh perempuan pelaku usaha mikro-kecil. Dengan aplikasi ini, para pelaku bisnis bisa belajar bisnis dimanapun dan kapanpun, tanpa terkendala tempat dan waktu. Aplikasi ini sangat mudah digunakan, baik secara online maupun offline.

Bagaimana cara membangun bisnis, Informasi produk, Bagaimana memasarkan produk, Bagaimana mengatur keuangan bisnis, dan berbagai kebutuhan pengembangan bisnis lainnya, sesuai dengan kebutuhan para pelaku usaha.

Kamis, 04 April 2019

Koordinasi Multistakeholder (1)


Dalam pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat, terlebih dalam kondisi tanggap darurat bencana, koordinasi multistakeholder mutlak diperlukan. Melalui forum ini, sharing pengalaman, progress/capaian, peluang kolaborasi, tantangan, dan berbagai hal strategis lainnya pada saat proses implementasi program dari masing-masing pihak, baik pemerintah, swasta, maupun LSM/NGO (lokal/nasional/internasional) bisa terjadi dengan baik.

Melalui proses sharing inilah berbagai pembelajaran menarik (transfer knowledge) dari dan bagi masing-masing pihak sedang berlangsung. Selain itu, di forum ini setiap pihak juga bisa menyepakati dan merencanakan strategi bersama dalam pelaksanaan program masing-masing, sehingga tidak saling tumpang tindih serta saling melengkapi dan menguatkan, antar setiap program yang sudah, sedang, dan akan dilaksanakan. Harapannya, akselerasi proses dan capaian program akan bisa optimal, merata, dan tepat sasaran.

Minggu, 24 Maret 2019

PASIGALA Bangkit!

Program Sulawesi Early Recovery Phase (ChildFund Alliance-YSKK-TRUE-LPBI NU)



Pada hari Jumat 28 September, 2018 pukul 17.02 WIB (10: 02UTC) gempa berkekuatan 7,4 RS dan pusat gempa 10 km melanda timur laut Donggala, Sulawesi Tengah di pulau Sulawesi. Ini diikuti oleh tsunami yang melanda pantai barat Sulawesi, pantai Talise di Kota Palu dan pantai di Donggala. Tsunami dan gempa bumi menyebabkan korban signifikan dengan 2.045 melaporkan kematian dan lebih dari 10.679 terluka. Ada 82.775 pengungsi di lebih dari 147 pusat evakuasi.

Laporan terbaru dari Gubernur yang dirilis oleh Pusat Data dan Informasi Provinsi Sulawesi Tengah (30 Januari 2019) mengkonfirmasi bahwa daerah-daerah yang terkena dampak gempa bumi, tsunami, tanah longsor, dan likuifaksi mengalami kerusakan besar pada bangunan dan infrastruktur. Diperkirakan kerusakan rumah mencapai 42.864 unit di Kota Palu, 30.538 unit di Kabupaten Sigi, dan 21.453 unit di Kabupaten Donggala, dengan total pengungsi mencapai 170.271 jiwa di 3 kab/kota tersebut. (Pusdatina 2019)

Dalam mendukung percepatan pemulihan di PASIGALA (Palu, Sigi, dan Donggala), terutama dalam bidang pendidikan dan ekonomi, Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK) yang tergabung dalam ChildFund Alliance bersama dengan lembaga TRUE dan LPBI-NU dan mendapatkan dukungan dari AKH Jerman, akan melakukan program ‘Sulawesi Early Recovery Phase – Transitional Education and Livelihood for Women (Young Women and Mothers) in Micro Enterprises’ selama 6 bulan ke depan (Maret-Agustus 2019).

Selasa, 12 Februari 2019

Apakah kita bagian dari Kaum Audist?


Mas Ismail, aktivis Tuli dari Solo yang bekerja di Sasana Inklusi & Gerakan Advokasi Difabel - SIGAB Indonesia sedang membaca naskah disertasiku, di ruang pustaka Sigab. Saat aku melewatinya, ia sedang membolak-balik lembar demi lembar. Secara cepat seperti mencari suatu kalimat penting. Aku membiarkannya.

Begitu aku kembali, ia memberi isyarat agar aku mendekat. Ia mulai bicara. Ia bilang, “apakah ada cerita soal diskriminasi Tuli di sini,” ia menunjuk ke naskah tebal itu. Ismail bisa bicara, walaupun terkadang (sedikit saja) ada kata atau kalimat yang ia sebut kurang aku pahami. Tapi aku bisa memintanya mengulanginya. Beberapa kali tak apa. Jika tetap belum jelas.

Aku bilang, “ada”.

Aku menulis sedikit mengenai protes Tuli atas kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di ruang publik. Ia lalu menyebut kata “audism” yang dengan yakin, kuyakini jika yang ia maksud sebut adalah kata ‘autism’.

Kupikir Mas Ismail memang bertanya soal Autism. Lalu kubilang ada kutulis tapi sangat sedikit. Aku menyebut lembaga bernama MPATI.

"Tidak!" katanya tegas.
Aku menyerahkan Hpku agar ia tulis ‘kata’ itu di mesin pencari google. Rupanya ia menulis kata audism.

“O audism," ucapku dengan ekspresi mengangguk-angguk.
Aku bilang, "tidak," Aku tidak mengetahui arti kata itu.

Minggu, 10 Februari 2019

Kemendikbud Bersama Uni Eropa Tingkatkan Akses Layanan PAUD Inklusif dan Ramah Anak


 

Jakarta, Kemendikbud --- Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) bekerjasama dengan Uni Eropa meresmikan Program Penguatan Masyarakat Sipil dan Akuntabilitas Sosial untuk Peningkatan Akses terhadap Layanan PAUD Inklusif dan Berkualitas di Kantor Kemendikbud, Jakarta, pada Selasa (15/01/2019). Program yang diharapkan selesai pada tahun 2021 ini akan dilaksanakan di tiga kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yaitu Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, dan Kabupaten Kupang.

Program dengan dana hampir mencapai EUR 750.000 ini dilaksanakan oleh Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK), Sumba Integrated Development (SID), dan Lembaga Pengembangan Masyarakat Madani (LPMM), dikoordinir oleh Barnfonden, sebuah organisasi dari Swedia, merupakan anggota dari Aliansi Childfund.

Direktur Pembinaan PAUD, Ditjen PAUD dan Dikmas, Muhammad Hasbi, menjelaskan proyek akuntabilitas sosial ini akan membahas bagaimana memberdayakan ekosistem untuk membangun anak usia dini dengan meningkatkan kapasitas pemerintah daerah, dari desa sampai kabupaten. “Dulu, kita fokus pada pembangunan insan saja, sekarang kita perlu mengelola insan dan ekosistemnya. Apa yang dikerjakan oleh Barnfonden dan tim konsorsium yang didukung oleh Uni Eropa ini sesuai dengan langkah dari Kemendikbud juga. Saya mendukung program ini dan program apapun yang fokus pada anak usia dini Indonesia,” ujar Hasbi kepada tim konsorsium program.