Senin, 22 September 2014

Pendidikan Pendamping Bisnis Mikro

Saat ini jumlah pengusaha usaha mikro tidak terlalu banyak bila dibandingkan dengan jumlah populasi penduduk di Indonesia. Demikian juga jumlah pendamping usaha mikro juga terbatas, tidak sebanding dengan jumlah usaha yang harus didampingi. Dengan asumsi 1 pendamping melayani 100 usaha, maka dibutuhkan 550 ribu pendamping. Jumlah pendamping saat ini masih berkisar di angka 10 ribu. Sangat jauh dari rasio ideal. Keadaan ini tentu berkontribusi pada kuantitas dan kualitas usaha mikro yang ada di Indonesia. Peran pendamping usaha mikro menjadi cukup penting untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas usaha mikro. Kajian tentang pendamping usaha mikro saat ini merupakan kebutuhan mendesak yang harus dilakukan oleh lembaga-lembaga social entrepreneur, sehingga kita mempunyai rumusan yang jelas tentang pendamping usaha mikro itu sendiri. 

Seorang pendamping secara umum memiliki tugas untuk mendampingi dan memberdayakan sasaran program. Dalam konteks pendampingan usaha mikro, maka yang menjadi sasaran program adalah para pengusaha mikro. Pemberdayaan dilakukan dengan menggerakkan potensi untuk mengatasi permasalahan yang mereka hadapi. Kegiatan utama dalam pendampingan adalah berdialog/berdiskusi dengan sasaran program. Dalam kegiatan dialog/diskusi ini, pelaku usaha dan pendamping mengidentifikasi masalah, menganalisa, dan kemudian merencanakan sesuatu kegiatan sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. 
Dengan demikian, tugas utama seorang pendamping adalah mengembangkan kapasitas sasaran program, sehingga mampu mengorganisir dan menentukan sendiri upaya-upaya yang diperlukan dalam memperbaiki  kehidupan (usaha) mereka. Pendamping bekerja bersama-sama dengan sasaran program untuk membangun kepercayaan diri terhadap kemampuan dan potensi yang sebenarnya mereka miliki, namun belum disadari dan dioptimalkan pemanfaatannya.  

Pendampingan, Kunci Kemajuan Bisnis Mikro
Karjono mengatakan sebagai mana yang dikutip oleh Ismawan, pendampingan adalah suatu strategi untuk mencapai tujuan, dimana hubungan antara pendamping dan yang didampingi adalah hubungan dialogis (saling mengisi). Di awali dengan memahami realitas masyarakat dan memperbaharui kualitas realitas ke arah yang lebih baik. Pendampingan sejatinya dimaksudkan untuk mempercepat kemajuan usaha dengan cara memperluas pengetahuan tentang bagaimana mengelola sumber daya secara efektif dan efisien. 
Di sisi lain, pendampingan juga merupakan salah satu bentuk manajemen resiko bagi lembaga keuangan mikro yang melayani kredit kepada para pengusaha mikro. Dengan melakukan pendampingan, dana yang telah dikucurkan akan lebih aman karena mereka akan mengetahui bagaimana penggunaan dana kredit dan bagaimana cara pengelolaannya, sehingga kepastian pengembalian kredit menjadi menguat. 
Keberadaan pendamping menjadi salah satu faktor penting kemajuan usaha mikro yang ada di  sekitar kita. Kualitas seorang pendamping harus senantiasa ditingkatkan sehingga pendamping dapat mengembangkan usaha mikro dengan baik. Supaya pendamping mampu memberikan kontribusi yang baik terhadap perkembangan para pelaku usaha mikro, maka pendamping harus memahami konsep dasar, tugas dan peran, karakteristik, kompetensi, dan persiapan-persiapan yang harus dilakukan sebelum melaksanakan kegiatan-kegiatan pendampingan usaha mikro. Dalam proses pendampingan, pendamping juga harus menghindari peran dan sikap sebagai seorang pembina, karena pada dasarnya seorang pendamping merupakan mitra kerja dan motivator bagi pelaku usaha dalam rangka untuk mengembangkan usaha mereka. 
Sebagai upaya untuk berkontribusi dalam penyediaan pendamping usaha mikro yang kompeten, Yayasan Insan Sembada (YIS) dan Mien Rachman Uno Foundation (MRUF) bekerjasama untuk mengembangkan sebuah konsep peningkatan kapasitas pendamping bisnis mikro, khususnya melalui lembaga keuangan mikro (BMT). Peningkatan kompetensi pendamping ini diramu menjadi sebuah pelatihan yang dinamakan ‘Pendidikan Pendamping Bisnis Mikro’. Pelatihan perdana dilaksanakan pada 28 Oktober - 03 November 2013 di Hotel Malioboro Inn Solo, yang diikuti oleh 15 peserta perwakilan 12 BMT dari Kota Bandung, Bogor, Garut, dan Tasikmalaya. 

Adapun materi yang disampaikan dalam proses pelatihan ini, yaitu: Manajemen Bisnis Mikro (Perencanaan, Manajemen Keuangan, Pemasaran, dan Produksi); Pendampingan Bisnis Mikro (Konsep dan Teknik Pendampingan); serta materi Training of Trainer/ToT sebagai bekal bagi masing-masing peserta agar bisa mentransfer informasi dan pengetahuan yang telah didapatkan selama proses pelatihan kepada staf BMT yang lain dan juga bagi masyarakat. Namun materi pelatihan yang disampaikan sangat memungkinkan untuk dikembangkan sesuai dengan konteks (kebutuhan) masing-masing calon lembaga pendamping dan wilayah kerjanya. 
Ke depannya, kami akan terus mengembangkan program ini dengan lebih memperluas jangkauan wilayah dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak yang concern pada pengembangan bisnis mikro di Indonesia. Kami sangat terbuka untuk berdiskusi, merencanakan, dan melaksanakan pengembangan program ini di berbagai wilayah, sesuai dengan kebutuhan dan konteks masing-masing. Mari bersama kami, ikut andil dalam program pengembangan bisnis mikro, sebagai kontribusi nyata dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. (IS) 


Oleh: Iwan Setiyoko, Manager of Research & Development YIS Solo
Sumber:  www.yis.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar