Kamis, 17 Januari 2019

Antara Value dan Price (Fenomena Prostitusi Online)

 
Ada malam ketika aku mendadak sendu alias seneng ndusel pada istri. Dan hanya Allah, istri dan aku tentu saja yang mengerti apa maksudnya.

Seperti beberapa hari yang lalu, misalnya. Setiap istri jalan ke dapur, aku ikuti. Dia ke ruang tamu aku pepetin. Hingga akhirnya dia ngerasa risih tatkala aku menjajari langkahnya untuk ke sekian kali.

“Ih, ini apa-apan, sih? Nempel terus. Pergi nggak?” Istri mengangkat gayung.

Ya sodara. Saat itu aku ngikutin istri yang mau ada urusan pribadi di kamar mandi.

Aku nyengir. Balik kanan dan duduk di depan tivi ruang tamu.

Ketika istri kembali ke ruang tamu, aku menatap dia lagi. Sambil senyum lagi.

“Apa?” gitu respon dia. Sambil manyun.

“Jangan galak-galak napa. Kan jadi atut akunya.”

“Biarin. Apa?”

“Hihi.”

“Malah nyengir. Ada apa?”

Aku jawab, “Anak-anak kan udah bobo tuh.”

“Hemm,” istri mulai menatapku curiga. “Mulai, nih. Mau bikin rusuh pasti.”

“Hihi.”


Entah kenapa di saat-saat seperti ini, aku lebih sering cengar-cengir gak jelas.

Lalu istri tiba-tiba bilang, “Eh, Bang. Tadi loh aku lihat di fb. Rame banget bahas 80 juta itu.”

Keningku berkerut, “Maksudnya?”

“Kemarin kan ada kejadian artis ketangkap polisi karena diduga melakukan kegiatan prostitusi online,” istri menjelaskan. “Nah, kata polisi, si artis minta tarif 80 juta semalam. Terus rame banget komenan netizen di medsos. Ada yang ngaitin dengan politik lah, bilang ini adalah bukti masyarakat punya daya beli tinggi. Ada juga yang posting kontroversi banget. Dia nulis gini, ‘Saya justru penasaran bagaimana si artis membangun value/ nilai dirinya. Hingga orang-orang mau membayar tinggi di atas harga pasar reguler. 80 juta semalam. Padahal seorang istri saja diberi uang bulanan 10 juta saja sudah merangkap jadi koki, tukang bersih-bersih, babysitter. Jadi yang murahan itu siapa?’”

Aku menanggapi, “Ada yang nulis gitu?”

Istri mengangguk. “Iya. Malah ada yang posting, ‘Sama-sama perempuan. Yang satu bisa deal 80 juta semalam. Tapi satunya lagi mau-maunya cuma dikasih seperangkat alat sholat. Jadi yang murahan itu siapa? Kan aku kesindir, Bang. Dulu Abang  nikahin aku kan ngasih seperangkat alat sholat.”

Aku jawab, “Neng, sebenarnya dulu itu aku pingin ngasih mahar kamu seperangkat alat sholat lengkap beserta alat wudhunya juga. Tapi ya masak di depan penghulu aku nyerahin kran sama air seember ke kamu?”

Istri memukul pundakku, “Aku serius. Bercanda aja Abang, mah.”

“Hehehe,” aku nyengir. “Gini, Neng. Aku rasa yang nulis itu belum paham agama. Tidak bisa membedakan mana haram mana halal. Ya udah, kita doakan saja moga dapat hidayah. Tapi yang jelas begini. Bedakan antara value dengan price.”

"Maksudnya gimana itu, Bang?"

Kemudian aku jelaskan pada istri, bahwa value tidak bisa dibandingkan dengan price. Nilai tidak bisa disejajarkan dengan harga. Dua poin itu adalah hal yang sama sekali berbeda.

Contoh, ada orang baru saja beli mobil Jaguar seharga 1,5 M. Lalu beberapa waktu kemudian, anaknya sakit parah. Dibawa ke rumah sakit. Dokter menyarakankan anaknya dioperasi agar nyawanya selamat. Hanya saja operasi itu mencapai 1,5 Milyar rupiah. Apa yang dilakukan si ayah pertama kali? Tanpa pikir panjang, dia langsung menjual mobil baru. Lihat, price mobil itu memang 1,5 Milyar. Mahal. Tapi jika dibandingkan dengan sang buah hati, yang proses membuatnya saja cuma pakai akad nikah murah plus doa junub, mobil mewah itu gak ada nilainya.

Begitu pula dengan pelaku seks komersial. Dia memang punya harga, tapi maaf dia tak punya nilai. Ia hanya dijadikan sebagai pemuas nafsu laki-laki bejat. Mirip orang-orang jahiliyah dulu. Tak ada cinta di sana. Tak ada kasih sayang. Hanya nafsu semata. Setelah acara malam ini kelar, pulang ke rumah dan urus diri masing-masing. Tak ada tanggung jawab.

Memutuskan menjadi seorang penjaja kehormatan, artinya harus siap menerima konsekuensi, di masyarakat ia terhina, di hadapan Allah dapat murka. Semewah apa pun kehidupannya, sebagus apa pun kendaraannya,  ia takkan mendapat hormat dari masyarakat. Sebab dia sendirilah yang menjual habis kehormatannya.

Berbeda dengan seorang istri. Benar dia jadi juru masak, momong anak, nyuciin baju, menyiapkan segala urusan rumah tangga.  Padahal waktu akad nikah cuma dikasih mahar seperangkat alat sholat. Murah banget. Tapi murah belum tentu murahan. Dalam pernikahan, ada cinta di sana. Ada kesetian. Ada rasa kasih sayang. Suami bertanggung jawab penuh atasnya. Di pandangan masyarakat dia mulia. Orang-orang menaruh hormat padanya, sebagaimana ia menjaga kehormatan diri dan keluarga kecilnya. Anak yang ia lahirkan bisa terhindar dari bully kejam, ‘Anak Haram’. Dan respek seperti itu tidak bisa dibeli dengan uang.

Itulah sebabnya, mengapa Allah mengharamkan zina dan memberkahi pernikahan. Sebab, Allah ingin menunjukkan bahwa manusia berbeda dengan hewan. Maka diberilah aturan. Jika sekali bersenggama, terus ditinggalkan, apa bedanya kita dengan kucing? Dari pernikahan, Allah seperti sengaja ingin menunjukkan bahwa wanita itu mulia. Ia harus dijaga dengan kasih sayang, kesetiaan dan transferan.

Ketika masa jahiliyah menjadikan perempuan hanya sebagai pemuas nafsu, Rasulullah hadir dengan penuh pemuliaan terhadap Khadijah. 25 tahun menikah tak sekali pun Bunda Khadijah dipoligami. Cinta Rasulullah utuh untuk sang kekasih. Ketika perempuan dipandang hina, dikubur hidup-hidup saat baru lahir, Nabi Muhammad yang mulia malah menggendong si mungil Siti Fatimah kesana kemari. Sambil tersenyum. Penuh kebahagiaan.

Melalui Islam, Allah ingin memuliakan perempuan.

Dan perzinahan adalah perusak utama kemuliaan itu. Maka, ia diharamkan. Siapa yang selalu dirugikan dari perzinahan itu selain perempuan? Laki-laki mah tinggal pergi saja beres. Gak bakal ketahuan. Yang kelihatan perutnya membesar siapa? Ya perempuan. Yang menanggung malu ya perempuan.

Selain itu, pelaku harus siap dengan konsekuensi, bahwa anak hasil perzinahan di masa depan tak boleh memakai ‘bin atau binti’ nama Ayahnya. Bila ia laki-laki, tak boleh menjadi wali nikah adiknya. Ia juga tak berhak mendapatkan harta warisan orang tuanya. Bukankah ini berarti sang orang tua sudah membunuh anaknya bahkan sebelum si buah hati lahir?

“Oh, begitu,” ujar istri sesaat aku menyelesaikan penjelasan. “Alhamdulillah aku dulu dinikahi Abang.”

“Alhamdulillah.” Aku mengangguk.

“Aku ngantuk, Bang.” Istri mengucek matanya.

“Iya aku juga. Abis ngomong panjang kali lebar, aku jadi ngantuk.”

“Ya udah bobo dulu, Bang.”

“Oke.”

Akhirnya kami tidur di samping para bocah di kamar.

Dan saat terbangun di keesokan harinya, aku seketika sadar kemarin malam telah melewatkan sesuatu yang sudah direncanakan matang-matang. Tapi gagal. Gara-gara ngomongin 80 juta.

Nyesek.



****

Surabaya, 10 Januari 2019


Oleh: Fitrah Ilhami (Penulis)
Facebook: www.facebook.com/fitrah.ilhami (sumber tulisan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar