Selasa, 12 Februari 2019

Apakah kita bagian dari Kaum Audist?


Mas Ismail, aktivis Tuli dari Solo yang bekerja di Sasana Inklusi & Gerakan Advokasi Difabel - SIGAB Indonesia sedang membaca naskah disertasiku, di ruang pustaka Sigab. Saat aku melewatinya, ia sedang membolak-balik lembar demi lembar. Secara cepat seperti mencari suatu kalimat penting. Aku membiarkannya.

Begitu aku kembali, ia memberi isyarat agar aku mendekat. Ia mulai bicara. Ia bilang, “apakah ada cerita soal diskriminasi Tuli di sini,” ia menunjuk ke naskah tebal itu. Ismail bisa bicara, walaupun terkadang (sedikit saja) ada kata atau kalimat yang ia sebut kurang aku pahami. Tapi aku bisa memintanya mengulanginya. Beberapa kali tak apa. Jika tetap belum jelas.

Aku bilang, “ada”.

Aku menulis sedikit mengenai protes Tuli atas kesulitan-kesulitan yang dihadapinya di ruang publik. Ia lalu menyebut kata “audism” yang dengan yakin, kuyakini jika yang ia maksud sebut adalah kata ‘autism’.

Kupikir Mas Ismail memang bertanya soal Autism. Lalu kubilang ada kutulis tapi sangat sedikit. Aku menyebut lembaga bernama MPATI.

"Tidak!" katanya tegas.
Aku menyerahkan Hpku agar ia tulis ‘kata’ itu di mesin pencari google. Rupanya ia menulis kata audism.

“O audism," ucapku dengan ekspresi mengangguk-angguk.
Aku bilang, "tidak," Aku tidak mengetahui arti kata itu.

Lalu Ismail mulai memperkenalkan apa istilah itu. Saya berupaya memahami ucapan-ucapannya. Intinya, audism adalah sebentuk perlakuan negatif terhadap Tuli.
Penasaran, akupun mulai mencari tau arti audism dalam mesin pencari google. Aku membuka beberapa laman.

Di wikipedia, kutemukan istilah ini. Audisme adalah seperangkat keyakinan yang meliputi: 'Orang Dengar' lebih superiror dari pada 'Orang Tuli' (Deaf) atau kesulitan mendengar (Hard of Hearing); Orang Dengar mengasihani Tuli karena prasangka bahwa Tuli memiliki kehidupan yang sia-sia dan menyedihkan; Tuli harus menjadi seperti Orang Dengar semirip mungkin, dan bila perlu menghindari Berbahasa Isyarat.

Orang yang memulai penggunaan istilah audism ini adalah Tom L. Humphries dalam disertasi doktoralnya pada 1975,  tetapi baru populer saat Harlan Lane menggunakannya dalam tulisannya. Humphries awalnya menerapkan audisme pada sikap dan praktik individu; sedangkan Lane memperluas istilah untuk memasukkan sebagai bentuk penindasan Orang-orang dengar terhadap Tuli.

Watak audisme pada diri Orang Dengar sudah menubuh dalam dirinya. Ia berpikir dan bertindak tanpa menyadarinya lagi sebagai perilaku Audis. Ada banyak contoh. Polisi yang mempersulit Tuli mendapatkan SIM. Orang-orang yang menganggap Tuli tak bisa berkendara, membaca maupun menulis, orang tua yang punya anak Tuli tapi melarangnya belajar bahasa isyarat dan memaksanya untuk bisa bicara (dengan beragam terapi wicara, bahkan mencangkokkan Cochlear Implant agar bisa mendengar) dan membaca bibir, atau orang-orang yang sengaja berteriak memanggil teman Tulinya, padahal ia sudah tahu temannya Tuli, atau Orang Dengar yang berbicara dengan Tuli dengan gerak bibir dan mulut semonyong mungkin, hanya agar Tuli berdasarkan prasangka picik atau ketidaktahuannya akan Budaya Tuli bisa mengertinya. Dikiranya semakin monyong Tuli akan paham, padahal bicara sewajarnya, seorang Tuli dapat memahaminya dengan baik. Mulut monyong malah membuat Tuli berkerut dan jengkel. 

Perilaku Audist dengan demikian telah membatasi Tuli mengembangkan budayanya sediri. Komunitas Tuli sungguh bermartabat. Mereka pun secara alamiah bisa membuat bahasanya sendiri—sebagaimana pertumbuhan bahasa verbal. Kini kita mengenal sejumlah bahasa isyarat, ada Bisindo—dengan beragam varian daerahnya, ada pula SIBI.
Tapi SIBI merupakan produk Orang Dengar. Rumit menggunakannya, kata beberapa Teman Tuli. Itu karena kamus SIBI tidak sepenuhnya berisi kata dari Tuli. Ada saja campur tangan Orang Dengar.

Budaya verbal tetap masuk dalam sistem isyarat Tuli. Bahasa Isyarat adalah bagian dari kebudayaan Tuli. Untuk itu, anak yang lahir Tuli—setelah uji medik diputuskan Tuli, harus segera memulai mendapatkan hak-haknya, sebagaimana Orang Dengar setiap hari mengobrol dengan anak-anaknya sampai akhirnya anak-anak ini karena meniru setiap ucapan akhirnya mampu berbahasa verbal.

Tentang SIBI, ada ceritanya. Saya menulis beberapa paragraf dalam disertasi ini dengan sumber data dari tulisan Amex Thohari. SIBI ada kaitannya dengan praktik pemisahan difabel bersekolah. Anak-anak difabel harusnya hanya bersekolah di SLB. Begitu aturan negara dengan jahat memisahkan orang berdasarkan perbedaan tubuhnya. Serupa kaum kolonial memisahkan orang berdasarkan ras atau etnisnya. Ras kulit putih, ras asing, dan inlander (pribumi). SLB memisah anak-anak sekolah berdasarkan A, B, C, D dan E. Tuli bersekolah di SLB B.
Pada tahun 1980-an, isu memperjuangkan kepentingan Tuli muncul. Mereka menentang kaum Audist dari kalangan guru dan birokrat yang ingin menerapkan Sistem KOMTAL alias 'Komunikasi Total ' dan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) diberlakukan di sekolah-sekolah luar biasa untuk Tuli (disebut juga tunarungu).

Komunikasi Total adalah suatu sistem komunikasi bagi Tuli yang memanfaatkan segala media komunikasi pada saat pengajaran seperti saat menulis, membaca, mendengar, dan membaca ujaran dengan memanfaatkan kemampuan dengar yang dimiliki Tuli. Termasuk juga menggunakan isyarat alamiah mereka, abjad jari serta isyarat-isyarat yang telah dibakukan menjadi pendekatan KOMTAL-SIBI.

Komunikasi total bertujuan menciptakan komunikasi efektif sesama Tuli maupun dengan masyarakat yang menggunakan media mendengar, membaca bibir, berbicara maupun dengan berisyarat. Penerapan komunikasi total sudah dimulai sejak 1978 di SLB-B Zinna di Jakarta dan 1981 oleh SLB-B karya (Mulya Kurnia, Damaiati R.; Slamet, Thohari, 2016). Kamus SIBI memiliki aturan linguistik yang sama sekali berbeda dengan aturan linguistik bahasa isyarat yang standar. Kamus SIBI sengaja dibuat oleh orang-orang ‘mendengar’ untuk ‘membantu’ komunitas tuli agar bisa menjadi ‘normal’. Kamus SIBI memiliki isyarat yang berbeda dengan bahasa isyarat yang dimiliki oleh komunitas Tuli. Inilah contoh ketika kaum Audist menguasai sekolah dan memaksakan kehendaknya terhadap penganut Budaya Tuli.
Dalam Convention on the Rights of The Child, Article 30:

“ …. right to enjoy his or her own culture, ….., or to use his or her own language.”

Pengertian … his or her own language" adalah BISINDO dan bukan SIBI. 

Bagi Aktivis Gerakan Tuli Indonesia, penggunaan KOMTAL–SIBI sama dengan merampas hak mereka! KOMTAL atau SIBI telah membunuh hak-hak komunitas Tuli mendapatkan hak linguistik berdasarkan budaya mereka sendiri. Protes pemberlakuan KOMTAL SIBI dan SIBI menguat lagi pada 2005 dan sampai sekarang ini protes Gerakan Tuli masih berlangsung bahkan semakin kencang menjangkau banyak aspek. Salah satunya pentingnya memasukkan Bahasa Isyarat Bisindo ke dalam kurikulum sekolah dan menjadikan Juru Bahasa Isyarat sebagai suatu profesi yang dikategorikan sebagai pekerjaan profesional.

Tapi rupanya perilaku  audist bisa juga ada di dalam komunitas Tuli sendiri. Mereka, baik Tuli maupun HoH yang menolak berbahasa isyarat adalah salah satu yang berpikir audist itu. Ketakutan tidak bisa beradaptasi dalam mayoritas orang berucap atau bercakap secara verbal membuatnya benar-benar tunduk pada cara pandang kenormalan.

Dalam temuan-temuan atau teknologi berbasis suara atau bunyi seperti bel, lonceng, dan seterusnya merupakan contoh teknologi berwatak audist. Abraham Graham Bell, penemu telepon adalah ilmuwan audist. Temuan telepon itu adalah rangkaian dari upayanya menciptakan perangkat komunikasi agar Tuli berbicara dan tidak berisyarat.

Jika para desainer sudah bebas dari perilaku audist ini, maka setiap karyanya, selain berbasis suara akan berbasis cahaya atau hal lain yang memungkinkan kaum Tuli tidak terdikriminasi jika segalanya hanya berbasis suara. Kini, di film-film yang kita tonton selain ada subtitle juga dikenal close-caption. Jika dulu suara kentut atau suara lolongan anjing tidak ada keterangan teksnya, maka kini sudah tersedia. Itu masukan dari Tuli kepada pembuat film. Ada banyak kemudahan kita nikmati dari temuan-temuan semacam ini.
Any way, terima kasih mas Mail atas diskusi singkatnya dan menanyakan apakah audism disinggung atau tidak dalam naskahku atau tidak.

"Saya akan masukkan mengenai audism, Mas!" Saya menyalaminya sebagai ucap terima kasih.

Tulisan ini semoga bisa membuat kita bisa saling respek satu sama lain, Orang Dengar - Orang Tuli. Memang sulit untuk bisa membuat relasi antar personal atau antar kelompok senyaman yang kita semua impikan dalam bermasyarakat, tetapi kita bisa memulainya.


Jadi, Apakah kita bisa menghindari sikap Audist?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar